Dengan beralaskan tikar, massa berkumpul di unit apartemen milik Justiani yang kerap disebut sebagai istri Mayjen (purn) Saurip Kadi. Mereka juga duduk di aula milik warga Blok A2 di lantai 5.
Mereka membentangkan beberapa spanduk yang di antaranya bertuliskan, "Kami Warga Mesuji Siap Mati Untuk Bapak Mayor Jenderal (Purn) Saurip Kadi". Ada juga spanduk yang bertuliskan "Kalau Untuk Berdoa Saja Kami Diusir, Kami Warga Mesuji Siap Mati Untuk Berjihad Sekarang Juga".
Mereka datang dari Mesuji untuk memberikan dukungan kepada Saurip Kadi dan pengacara Palmer Situmorang yang menolak pengurus Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS).
Kapolres Jakarta Pusat Kombes AR Yoyol sempat mengeluarkan ultimatum agar pendukung Sauriop Kadi membubarkan diri. Namun peringatan sang Kapolres seakan tak berdampak apa-apa.
Kehadiran orang-orang yang tak dikenal ini jelas meresahkan warga Blok A2. Orangtua melarang anak bermain di fasilitas umum yang ada. Beberapa warga yang khawatir jadi sasaran amukan pendukung Saurip Kadi memilih menginap di hotel untuk sementara.
Sampah berserakan di koridor lantai dasar hingga lantai lima. Sementara bau pesing tercium menyengat. Lantai basement lebih parah lagi, sudah seperti WC umum.
Sari, seorang penghuni apartemen di Blok A2 dalam keterangannya, mengecam Saurip Kadi dan Palmer Situmorang.
"Kok pensiunan jenderal dan pengacara ngetop, tapi kelakuannya begitu. Apa nggak malu dimuat di media massa karena mempertontonkan kelakuan bodohnya yang melanggar hukum. Atas nama hukum dan rakyat, menyengsarakan ratusan warga GCM," ujar Sari yang merupakan salah seorang caleg.
Mewakili teman-temannya sesama penghuni, ia meminta polisi segera menghalau massa pro Saurip Kadi dari GCM.
"Jangan sampai warga juga membawa preman untuk membasmi orang bayaran Saurip agar angkat kaki dari GCM," paparnya.
Sikap serupa disampaikan Tony. Ia mengeluhkan ketidaktegasan polisi.
"Dari spanduk yang mereka pampang kan jelas indikasinya, mereka mau membuat rusuh GCM. Apa mereka mau membuat rusuh seperti di Mesuji? Kami juga heran, kok polisi tidak bertindak tegas, apalagi mereka (massa)Â sudah berhari-hari di sini. Apa sampai ada pertumpahan darah baru polisi mengusir mereka?" kata penghuni apartemen Blok A2 ini.Â
Menurut Tony, kedatangan orang dari Mesuji bukan untuk tahlilan seperti yang disampaikan Justiani.
"Warga Mesuji datang mengorbankan nyawa demi membela Saurip Kadi. Emangnya Saurip Kadi siapa? Dia bukan nabi. Kok berjihad demi Saurip Kadi," kata Tony lagi.
Ketua RW 08 GCM, Harry Wijaya, dalam keterangan mengatakan, bersama Sekteratis PPRS Djony Tandrianto dan Kapolsek Kemayoran M Sagala, dirinya telah meminta dengan baik agar massa meninggalkan GCM. Namun Saurip Kadi menolak.
Menurut Saurip, warga Lampung datang untuk mendukung perjuangan segelintir warga GCM yang menolak membayar iuran listrik dan air kepada pengelola yang sah.
Kapolres Jakarta Pusat, Kombes AR Yoyol sudah mengeluarkan mengultimatum agar pendukung Saurip Kadi membubarkan diri dala, waktu 1x24 jam.
[dem]