“Bicara politik dinasti begini, sejauh belum ada larangan politik dinasti dalam sistem demokrasi kita, caleg yang memiliki hubungan kekerabatan dalam lingkaran kekuasaan politik, maka mereka masih punya hak untuk memilih dan dipilih. Dan tidak semua caleg dinasti buruk,†kata Direktur Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, saat berbincang dengan wartawan, Rabu (15/1).
Namun demikian, lanjut Karyono, sebelum memilih, publik perlu mengetahui rekam jejak caleg dinasti. Bila memang ada yang memiliki rekam jejak yang baik, bersih dari korupsi dan tidak pernah terlibat skandal yang melawan hukum, dia layak dipilih. Selain itu, pemilih perlu mempertimbangkan aspek kualitas caleg, tidak sekadar populer dan banyak kapital. “Pemilih harus cerdas dalam memilih caleg,†kata dia.
Calon legislator dari Partai Golkar, Dodi Reza Alex Noerdin, tak menampik, bila statusnya sebagai anak kandung Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin, kerapkali menjadi ‘sasaran tembak’ lawan politiknya. Cap caleg dinasti selalu disematkan kepadanya. Tapi, ia tak ambil pusing, karena ia mengaku tak pernah membawa-bawa kebesaran keluarga. Apalagi mengandalkan sosok sang ayah. Baginya, kinerja sebagai anggota dewan itu yang jadi ukuran bagi masyarakat. Bukan karena ia anak dari Alex Noerdin.
Lewat bukti kerja, rakyat bisa menilai secara objektif. Dodi yakin rakyat tak bisa dibohongi, apalagi digiring dengan opini ‘caleg dinasti’. Bila ia bekerja sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi konstituen di daerah pemilihannya, dengan sendirinya rakyat pun akan tertarik.
“Saya yakin, bila kita bekerja, rakyat pun akan menilai objektif,†kata Dodi yang kembali mencalonkan diri sebagai calon legislator Golkar untuk daerah pemilihan Sumsel I.
Dodi juga bicara tentang petahana DPR yang maju kembali. Ia mengakui, saat ini kinerja petahana Senayan menjadi sorotan publik. Menurunnya kepercayan publik kepada petahana, membuat peluang lolos kembali ke parlemen kian berat. Tapi, ia yakin pemilih sekarang sudah cerdas, bisa melihat dan menilai, mana petahana yang selama ini bekerja dan mana yang tidak. Termasuk ‘caleg dinasti’. "Tapi saya yakin rakyat sekarang sudah cerdas,†kata Dodi.
Dodi menambahkan, seorang caleg, apalagi yang menyandang status petahana atau ‘caleg dinasti, tak bisa lagi hanya mengandalkan spanduk dan baliho. Era sekarang, bukan lagi seperti itu. Rakyat sudah pintar memilah rekam jejak caleg, dengan terbukanya akses terhadap informasi. Janji manis tak bisa lagi dipakai merayu pemilih. Bahkan, boleh jadi itu akan menjadi blunder. Salah satu cara untuk memikat dan mengikat pemilih, adalah dengan menunjukan kerja nyata yang dirasakan langsung oleh mereka. Bukan dengan slogan tapi dengan aksi perbuatan.
“Menyandang status petahana, memang bukan jaminan akan terpilih kembali. masyarakat sekarang sudah cerdas menilai dan melihat siapa yang layak menjadi wakilnya nanti di parlemen baik itu di DPRD, ataupun di DPR. Pendeknya, rakyat sudah pintar melihat jejak rekam caleg,†kata dia.
Dodi melanjutkan, tak bisa lagi mendekati pemilih dengan cara iming-iming janji atau barang. Apalagi itu, hanya dilakukan menjelang pemilihan. Bagi seorang petahana, kewajiban politik yang harus dilakukan adalah merawat konstituennya. Caranya, dengan bekerja memperjuangkan aspirasi mereka secara konsisten. Atau siap membantu jika dibutuhkan. sederhananya, bukan kata tapi perbuatan yang harus ditonjolkan. “Apa yang sudah diperbuatan sang caleg petahana, itu yang akan jadi catatan dan penilaian mereka,†kata dia.
Karena itu, lolos tidaknya ke Senayan, jangan sampai dijadikan beban. Apalagi, sampai menghalalkan segala cara. Ia ingin terpilih secara alamiah. Sebab itulah, ia mempersilahkan masyarakat menilai dia apa adanya. “Silahkan masyarakat menilai apa yang sudah saya lakukan di DPR untuk masyarakat Sumsel. Saya kira itu lebih penting,†pungkasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: