PDIP, sebagai partai pengusung Jokowi di Jakarta, secara resmi baru akan mengumumkan capresnya sekitar bulan April mendatang. Amanat Kongres PDIP di Ancol, Jakarta, beberapa waktu lalu mengamanatkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri untuk mengumumkan siapa calon pengganti SBY di tampuk kekuasaan RI-1.
Karena menganggap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri terlalu lamban, banyak kader PDIP berinisiatif sendiri untuk menyorongkan Jokowi sebagai capres dari PDIP. Simpatisan PDIP di berbagai daerah bahkan sudah mendeklarasikan Jokowi sebagai Capres PDIP. Bakkan, atas inisiatif akar rumput dibentuk berbagai barisan relawan pendukung "Jokowi for RI-1".
Pengajar komunikasi politik di Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai gesekan yang akhir-akhir ini terjadi sesama kader dalam mensikapi fenomena kelahiran superstar baru, harusnya disikapi dengan bijak oleh elit-elit PDIP. Elite PDIP jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, seperti terkait fenomena kelahiran Megawati di Kongres PDI tahun 1986 yang mampu mengalahkan daulat sang penguasa. Saat itu, Megawati mampu menjungkirbalikkan konstelasi politik Orde Baru yang kuat mencengkeram karena desakan akar rumput.
"Fenomena ini sekarang terjadi di Jokowi. Jokowi lahir atas kehendak sejarah," kata Ari kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 7/1).
Kehadiran Jokowi, lanjut Ari, adalah berkah sekaligus harapan baru akan masa depan PDIP; apakah akan melanggengkan kekuasaan puritan ataukah akan menuju fase politik kerakyatan yang kental dengan pembelaan kaum jelata. "Inilah saatnya, elit-elit PDIP harus menyadari harapan rakyat akan sosok Jokowi," sambung Ari.
Menurut pengajar program pascasarjana di berbagai perguruan tinggi di tanah air ini, menunda-nunda pencapresan Jokowi ibaratnya sama saja membiarkan buah mangga busuk di pohonnya, dan akan banyak lalat yang menikmatinya.
"Dan lalat itu saya ibaratkan sebagai parpol-parpol lain selain PDIP," demikian Ari.
[ysa]
BERITA TERKAIT: