"Saat ini parpol di luar Partai Hanura sedang
wait and see melihat hasil pemilu legeslatif yang akan datang, atau sedang menakar elektabilitas tokoh lain yang juga popular di masyarakat," kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, Senin malam (30/12)
Menurut dia, bisa jadi tokoh non-parpol akan melejit jika memang memiliki modal sosial dan politik yang tinggi. Sebaliknya, tokoh partai yang "kebetulan" menjadi ketua umum parpol juga memiliki previledge karena posisinya amat menentukan di partai. Sosok seperti ini bisa punya peluang digaet oleh parpol besar guna melengkapi persyaratan prosentasi suara koalisi parpol untuk mencalonkan pasangan capres-cawapres sendiri.
Lebih lanjut, dalam prediksi pengajar program pascasarjana di berbagai perguruan tinggi di tanah air ini, tokoh partai yang bukan berposisi sebagai ketua umum parpol pun juga punya potensi untuk "dipinang" menjadi cawapres dari parpol besar. Nama Jusuf Kalla misalnya, sangat potensial dipakai partai lain untuk menggerus suara Golkar, demikian juga nama Mahfud MD juga layak jual bagi capres parpol besar sebagai representasi partai-partai Islam.
"Saya kira peta pertarungan cawapres di Pemilu nanti tidak akan kalah meriahnya ketimbang perang bintang antar capres. Posisi cawapres sangat penting dan krusial di saat-saat akhir," demikian Ari.
[ysa]
BERITA TERKAIT: