Ternyata nama Hidayat Nur Wahid sebagi salah satu pendiri PKS masih dikenang dengan baik oleh kader-kader PKS. Sementara Anis Matta, yang lama menjadi Sekjen dan menduduki jabatan Luthfi Hasan Isaq usai terkena kasus korupsi, belum begitu mengakar kuat di kalangan
grassroot PKS.
Pengajar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi melihat hasil Pemira PKS mematahkan asumsi lama kalau jabatan ketua umum atau presiden parpol akan otomatis menjadi calon presiden. Dan harus diakui, sosok Hidayat Nur Wahid jauh lebih bersih, kapabel dan memiliki integritas lebih daripada kandidat-kandidat lain di Pemira.
"Kalau pun nama Hidayat yang sekarang akan digadang-gadang PKS sebagai capres mendatang, tentu saja saya tidak kaget karena dia yang terbaik dari seluruh stok kader PKS yang ada," ucap Ari Junaedi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 30/12).
Menurut pengajar program S2 dan S1 UI ini, bisa jadi Anis Matta belum maksimal merangkul kader-kader di daerah karena selama ini terpaku di jabatan Wakil Ketua DPR yang tidak memungkinkan intens turun ke daerah-daerah.
"Harus diakui efek pemberitaan media massa yang begitu massif ke Hidayat Nur Wahid tone positifnya lebih besar ketimbang nama Anies Matta. Cacat Hidayat hanyalah kekalahannya di Pilgub DKI, sebaliknya Hidayat clear dari kasus-kasus korupsi," ungkap Ari.
Sebaliknya, masih kata Arie, tone negatif pemberitaan Anis masih di seputaran keluarganya yang tersangkut kasus rasuah impor sapi walaupun akhirnya hilang dengan sendirinya serta praktek poligami di keluarganya.
"Rapor Hidayat jauh lebih bagus daripada rapor Anis, itu yang saya anggap menjadi penilaian para pemilik suara di Pemira PKS," demikian Ari Junaedi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: