Namun perlu dicatat, kata Ketua Umum Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, demikian besarnya tanggung jawab tersebut, maka pembuatan film sejarah, khususnya yang berkaitan dengan tokoh-tokoh bangsa, bukanlah pekerjaan mudah. Sebab harus mampu secara utuh membuat personifikasi karakter tokoh yang difilmkan.
Twedy pun menegaskan, film
Soekarno yang telah beredar merupakan salah satu contoh film yang tidak mampu menampilkan karakter figur Soekarno seutuhnya. Hal tersebut dapat dilihat dari, pertama, film tersebut kurang mampu mengangkat sisi ideologisnya Soekarno. Mulai dari mencetuskan ideologi Marhaenisme sampai puncaknya pada pidato 1 Juni 1945 Hari Lahir Pancasila.
Kedua, kata Twedy kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 16/12), film tersebut juga tidak mampu mengangkat sisi perjuangan Soekarno seperti momentum perjuangan selama kuliah dan terjun di dunia pergerakan, melakukan pengorganisasian massa serta mendirikan PNI tahun 1927 pada saat berusia 26 tahun.
Ketiga, lanjut Twedy, film tersebut juga tidak menampilkan proses intelektual Soekarno sehingga menjadi seorang pejuang dan orator ulung. Padahal banyaknya buku yang dibaca Sukarno merupakan fondasi Sukarno menjadi seorang orator yang seyogyanya ditampilkan dalam film tersebut. Sehingga menjadi pendidikan politik bagi anak bangsa.
Keempat, masih kata Twedy, film tersebut juga tidak mengangkat sisi kerakyatan Sukarno. Padahal kedekatan Soekarno dengan rakyat khususnya rakyat kecil.
Kelima, begitu banyaknya karakter Soekarno yang tidak ditampilkan dan digantikan adegan urusan pribadi dan keluarga Soekarno. Film tersebut lebih menonjolkan persoalan pribadi dan keluarga Soekarno dan mengesampingkan sisi perjuangan seorang Soekarno yang sebenarnya berguna bagi generasi muda.
"Dengan demikian kami berpendapat bahwa film tersebut belum merepresentasikan sosok Soekarno dan merupakan pembodohan terhadap anak bangsa khususnya generasi muda," demikian Twedy.
[ysa]
BERITA TERKAIT: