Tekad Maruarar ini mendapat sambutan dari Pansus Jatigede, dan juga beberapa kepala desa. Wakil Ketua Pansus, Yadi Mulyadi, mengatakan bahwa ia sangat bangga dengan perjuangan Maruarar Siarit. Apalagi, seminggu yang lalu, Maruarar juga datang dan menemui warga.
"Sedikit anggota dari dapil Sumedang yang punya perhatian pada kasus ini, Kita bangga ada Bang Ara yang selalu memperjuangkan aspirasi kami di pusat," kata Yadi di sela-sela beraudiensi dengan Komisi V di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Rabu, 20/11).
Hal yang sama disampaikan anggota Pansus, Atang Setiawan. Atang, yang merupakan warga yang terdampak juga mengatakan bahwa warga sudah lelah dengan perjuangan ini. Bisa dikatakan, warga sudah berjuang lebih dari 30 tahun.
"Bila dikatakan harus sabar, kami sudah bersabar terlalu lama. Hampir tiap minggu warga demo. Kita berharap, perjuangan kita, yang juga dibantu Bang Ara, bisa berhasil," ungkap Atang, yang senang karena Maruarar, meski duduk di Komisi XI, tidak menjadi halangan untuk membantu perjuangan warga Sumedang.
Dede Suwarman, anggota Pansus yang lain, mengatakan bahwa warga sudah begitu resah. Dede, yang mengaku punya data sejak puluhan tahun lalu, juga sangat sedih melihat warga, yang bahkan belum menerima ganti rugi. Di saat yang sama, pendataan juga belum tuntas.
"Dengan perjuangan Bang Ara di pusat, kita berharap masalah ini cepat selesai," ungkap Dede.
Sementara itu, Didi Nurhadi, salah seorang kepala Desa, mengatakan bahwa ia ibarat buah simalakama. Di satu sisi, ia mendapat tekanan dari atas. Di saat yang sama, ia pun dipermasalahkan oleh warga. Lebih dari itu, untuk mengurus pendataan, ia harus mengeluarkan kocek sendiri.
"Kami bahkan harus pinjam ke bank," ungkap Didi, dengan nada sedih.
"Bahkan, kami sampai Rp 100 juta mintam ke Bank," sambung kepala desa lain, Sahya Sukaryaputra, yang ada disampingnya.
Hingga saat ini, persoalan megaproyek Waduk Jatigede, Sumedang, belum kelar. Dari persoalan gantirugi yang belum tuntas, hingga persoalan dampak sosial bila waduk ini sudah mulai digenangi oleh air. Menurut rencana, setelah gagal digenangi beberapa bulan yang lalu, waduk ini akan digenangi air pada Februari 2014.
Ada beberapa persoalan bila Waduk Jetigede, Sumedang, benar-benar digenangi air. Secara ekonomi, akan hilang lahan seluas 4.891 hektar karena terendam. Pun demikian, akan hilang sawah seluas 1.500 hektar. Tentu saja hal ini akan mengancam ketahanan pangan daerah sebab produksi padi sebanyak 30 ribu ton per tahun bisa menjadi sirna. Belum lagi masalah lingkungan, sosial, adiministrasi negara, layanan kesehatan dan pendidikan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: