Namun demikian, Fajar dinilai tidak pantas lagi menjadi Direktur Maarif Institute, lembaga yang didirikan oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif. Bila terus menduduki jabatannya di lembaga itu, terkesan ada kontradiksi. Di satu pihak, Fajar adalah orang
non-governmental organizations (NGO), namun pihak lain dia juga sebagai orang politik.
"Barindo itu kan organisasi politik. Selain pernah menjadi tim sukses SBY, Barindo juga pernah tercatat sebagai partai," kata Ketua Forum Intelektual Terpadu (Filter), Andi Irawan, dalam keterangan beberapa saat lalu (Jumat, 8/11).
Secara teoritis, lanjut Andi, NGO berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang kekuasaan politik. Karena itu, bila orang NGO pada saat yang sama juga orang politik, maka tidak jelas lagi garis demarkasi antara kekuasaan politik dan kekuatan penyeimbang.
"Malah ada kekhawatiran nanti, Maarif Institute itu akan menjadi lembaga timses untuk Gita Wirjawan. Tentu itu dapat merusak nama lembaga sekaligus nama pendirinya, Buya Syafii," kata Andi lagi.
Karena itu, Andi menyarankan agar Fajar memilih salah satu posisi yang ada. Kedua posisi itu sama-sama strategisnya. Namun agar bisa lebih leluasa untuk bergerak dan mengaktualisasikan diri, Fajar sebaiknya fokus pada satu posisi.
[ysa]