Namun sayang, hasil tersebut sulit dipasarkan ke luar Pulau Enggano karena terbatasnya alat transportasi. Alat transportasi utama yang digunakan rakyat untuk keluar masuk ke Enggano hanya sebuah kapal roro dan satu kapal perintis, selebihnya kapal-kapal nelayan yang sewakut-waktu ke Bengkulu.
Berdasarkan pantauan Indonesia Maritim Institute (IMI), salah satu keluhan rakyat di Enggano adalah mahalnya biaya ferry untuk mobil atau truk yang mengakut komoditas dari Enggano ke Bengkulu. Satu buah mobil dicharge Rp 1 juta, sementara harga untuk truk bisa berbeda-beda. Bahkan, muatannya pun kena charge berbeda lagi.
"Keluhan ini sangat realisitik, karena akan mengurangi nilai jual barang karena terlalu tingginya biaya transportasi," kata Direktur Eksekutif IMI, Y Paonganan, beberapa saat lalu (Rabu, 30/10).
Kondisi ini, kata Paonganan adalah hasil riset yang dilakukan oleh Tim dari Indonesia Maritime Institute (IMI) pada pertengahan Oktober ini. Dan erdasarkan hal tersebut, IMI mendesak Kementerian Perhubungan, melalui Dirjen Perhubungan Laut dan Perhubungan Darat, segera melakukan tindakan kepada operator kapal roro dan kapal perintis yang beroperasi melayani rute Bengkulu-Enggano.
"Bukankah layanan tersebut mendapatkan subsidi APBN?" demikian Paonganan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: