Yusril Ihza: Hasil Survei yang Disulap Bisa Dijadikan Langkah Awal Kecurangan Pemilu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Rabu, 23 Oktober 2013, 10:40 WIB
Yusril Ihza: Hasil Survei yang Disulap Bisa Dijadikan Langkah Awal Kecurangan Pemilu
yusril ihza/net
rmol news logo . Lembaga survei yang belakangan menjamur, dan membuat heboh dunia politik, bukanlah lembaga yang murni akademis, melainkan juga lembaga profesi yang komersial. Memang tak bisa dipungkiri, dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya juga tidak dapat diabaikan

Demikian disampaikan Ketua Dewan Syura Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra. Yusril pun melihat, parpol atau politisi yang akan berkompetisi, sudah lazim meminta lembaga survei melakukan kegiatannya. Tujuannya bukan semata-mata untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dirinya, tetapi juga untuk membentuk opini publik. Maka tidak jarang, suatu lembaga survei sudah menandatangani kontrak dengan parpol atau politisi untuk jangka waktu tertentu.

"Besarnya nilai kontrak tentu sesuai kemampuan partai atau politisi ybs. Makin besar uang, makin canggih lembaga surveinya," kata Yusril, melalui akun twitter-nya, @Yusrilihza_Mhd, pagi ini (Rabu, 23/10).

Biasanya, lanjut Yusril, laporan hasil riset ada dua macam. Satu yang benar, dan hanya untuk kepentingan internal. Kedua yang tidak benar, dan digunakan untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk mempengaruhi opini publik.

"Hasil survey yg disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survey yg disulap itu bisa pula dijadikan sbg langkah awal kecurangan Pemilu secara sistemik," demikian Yusril. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA