"Konvensi yang kita bayangkan mendapat liputan media yang jauh lebih meriah dibanding liputan kegiatan-kegiatan partai yang lain ternyata tidak terjadi," ujar board advisor CSIS Jeffrie Goevanie pagi ini (Selasa, 24/9).
Media-media televisi lebih tertarik memberitakan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan putra musikus Ahmad Dhani ketimbang meliput rangkaian kegiatan konvensi. Bahkan deklarasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), yang digagas Anas Urbaningrum, dan para pendukungnya yang notabene dipersepsikan sebagai kegiatan tandingan penyelenggaraan konvensi, di mata media dianggap jauh lebih menarik.
Apalagi respons negatif dari para pemimpin Partai Demokrat terhadap para deklarator PPI memicu hiruk-pikuk yang berdampak konvensi semakin dilupakan publik. "Deklarasi justru menjadi antiklimaks. Kemeriahan itu tidak terjadi karena deklarasi hanya diselenggarakan secara sederhana tanpa liputan memadai dari berbagai media," tegas Jeffrie, orang yang pertama kali menyarankan partai politik menggelar konvensi menghadapi 2014.
Menurutnya, konvensi itu bisa meriah kalau diselenggarakan, minimal di Istora Senayan dengan dihadiri tim sukses, relawan, dan para pendukung dari masing-masing peserta. Dia membayangkan, jika tiap peserta membawa seribu orang, akan hadir 11 ribu orang. Jumlah itu cukup untuk memeriahkan Istora. "Apalagi jika sebagian dari mereka membawa berbagai atribut, seperti bendera, spanduk, dan pamflet, yang berisi gambaran visi-misi masing-masing peserta, tentu akan menambah kemeriahan suasana," ungkapnya.
Karena itu dia melihat, momentum untuk memunculkan calon-calon presiden yang mampu bersaing dengan calon-calon yang sudah diusung partai-partai lain itu akan hilang begitu saja. "Begitu pun upaya meningkatkan kembali popularitas dan elektabilitas Partai Demokrat, akan menjadi upaya yang sia-sia," demikian Jeffrie.
[zul]
BERITA TERKAIT: