Wasekjen Golkar Minta Pemerintah Turun Tangan dan Bantu Pengrajin Tenun

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 20 September 2013, 13:56 WIB
Wasekjen Golkar Minta Pemerintah Turun Tangan dan Bantu Pengrajin Tenun
lalu mara/net
rmol news logo . Dulu, salah satu kegiatan kegiatan perempuan Sasaq Nusa Tenggara Barat (NTB), selain bertani, adalah bertenun. Keahilan bertenun ini diturunkan secara turun temurun. Namun belakangan, kegiatan menyesek, atau bertenun dalam istilah Sasaq, kurang diminati perempuan Sasaq.

Ada banyak faktor yang membuat minat perempuan Sasaq untuk bertenun menjadi kurang. Di antaranya adalah soal penghasilan. Penghasilan dari bertenun kalah besar bila dibandingkan dengan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Faktor lainnya adalah pemasaran. Semakin hari, tenun Sasaq pun semakin kurang populer, bahkan di kalangan orang Sasaq sendiri. Tentu saja, popularitas tenun Sasaq pun akhirnya ditelan zaman.

"Pemerintah daerah harus turun tangan agar tenun Sasaq tidak jadi kenangan, alias punah ditelan zaman. Selain itu, kita sebagai orang Sasaq harus membantu dengan membeli tenun hasil sesekan tersebut. Kalau bukan orang Sasaq, siapa lagi yang akan melestarikan dan membeli tenun Sasaq. Cintailah produk negeri sendiri," kata tokoh nasional yang sering memperjuangkan aspirasi warga NTB, Lalu Mara Satria Wangsa, beberapa saat lalu (Jumat, 20/9).

Keprihatinan Lalu Mara atas produksi tenun Sasaq ini beralasan. Wasekjen DPP Golkar ini menyaksikan langsung saat bersilaturahmi ke Dusun Kemoyong, Desa Kidang, Lombok Tengah, NTB beberapa waktu lalu. Dia menyaksikan dan mendengar langsung aspirasi warga disana, dan juga keluh kesah atas produk tenun Sasaq yang kian kurang diminati.

Di desa itu, jurubicara Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie ini menyaksikan sekitar 30 perempuan Sasaq menenun. Ada beberapa kelompok tenun disana, dan ada beberapa produk yang dihasilkan. Misalnya tenun Kembang Komak, Selulut, Ragi Genep, Bonjoran dan lain-lain. Sementara tenun Sasaq yang paling sulit dan lama pengerjaannya adalah Songket Wayang yang biasa digunakan saat pesta dan biasanya digunakan oleh Pembayun atau pemimpin saat upacara Sorong Serah Aji Suci Krama Adat.

"Penyesek yang tergabung dalam kelompok Pade Girang ini berharap ada binaan dari pemerintah untuk melestarikan tenun Sasaq melalui pembinaan sumber daya manusia dan bantuan modal," demikian Lalu Mara. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA