Selain itu,
fellowship juga dilaksanakan untuk kaderisasi intelektual anak muda Indonesia agar menjadi intelektual yang kritis, mencerahkan, dan memihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial; mewadahi potensi-potensi kreatif anak muda Indonesia untuk turut serta mencari jawaban atas berbagai persoalan sosial keagamaan; dan memperkuat tradisi riset dan penulisan di kalangan kaum muda.
"Yang juga penting,
fellowship ini bertujuan untuk menyemarakkan kembali dinamika pemikiran sosial, politik, dan keagamaan di Indonesia dengan mengusung diskursus yang serius dan mendalam," ungkap Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif Maarif Institute (Rabu, 18/9).
Program
fellowship ini berlangsung selama enam bulan yang terdiri dari tahap seleksi, riset, penulisan, dan penganugerahan.
Fellowship ditujukan untuk mahasiswa S1 dan fresh graduate yang punya keinginan kuat dalam bidang penelitian dan penulisan.
Para kandidat yang lolos seleksi, nantinya akan diberi kesempatan menjadi visiting researcher di Maarif Institute dan akan diberikan training dan akses untuk menulis di berbagai media nasional. Karya hasil riset para penerima fellowship ini juga akan diterbitkan oleh MAARIF Institute. Untuk menjaga kesinambungan program
fellowship ini, para finalis akan menjadi
associate peneliti di MAARIF Institute.
Untuk menggawangi program
fellowship ini, Maarif Institute telah menetapkan Dewa Juri yang terdiri dari Dr. Sukardi Rinakit, Dr. Luthfi Assyaukanie, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Dr. Ahmad Najib Burhani, dan Rikard Bagun.
Batas pengiriman proposal riset para peserta pada tanggal 31 Oktober 2013. Proposal penelitian dapat dikirim ke Panitia Moeslim Abdurrahman Fellowship dengan alamat: MAARIF Institute for Culture and Humanity, Jl. Tebet Barat Dalam II No. 6, Tebet Barat, Jakarta Selatan 12810, Indonesia. Dapat juga dikirim dalam bentuk file MS.Word melalui e-mail:
[email protected] dan
[email protected]. Info lebih lengkap tentang program ini bisa dilihat di www.maarifinstitute.org.
Kang Moeslim, panggilan Moeslim Abdurrahman, meninggal dunia pada pada Jumat malam, 6 Juli 2012 lalu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Semasa hidup, tokoh Muhammadiyah yang juga dekat dengan almarhum Abdurahman Wahid itu, terkenal dengan gagasan-gagasannya mengusung Islam transformatif dan pentingnya membela kaum
mustadz’afin.
“Perhatian utamanya tentang persoalan kemiskinan tidak hanya dituangkan pada tulisan, namun juga diwujudkan dengan kepedulian nyata pada orang-orang terpinggirkan dan kaum miskin,†ujar Sukardi Rinakit.
[zul]
BERITA TERKAIT: