Pasalnya, seperti hasil survei yang dimuat
The Economist, Indonesia bersama Chile, India, adalah negara
emerging market yang rentan berpotensi krisis akibat tekanan neraca pembayaran yang negatif.
Hal ini berbeda dengan Malaysia, Filipina yang pada krisis tahun 1997 menjadi korban utama bersama Indonesia. Tetapi saat ini, tingkat kerentanan kedua negara itu lebih rendah dibandingkan Indonesia, yang memiliki tingkat kerentanan tinggi karena lemahnya kinerja ekspor.
Karena itu, Ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Dahnil Anzar Simanjuntak, (Jumat, 6/9), menyarankan, kondisi ekonomi seperti saat ini tidak cukup sekedar ditangani dengan kebijakan
bubble berupa kebijakan moneter sebagai penyembuhan jangka pendek.
Tetapi yang lebih krusial adalah penguatan kebijakan ekonomi domestik yang mampu mencegah
cash outflow, secara operasionalistik, revitalisasi kebijakan substitusi import harus dipaksakan.
"Contoh dalam jangka pendek, tidak masalah kedelai mahal karena
supply kurang. Pemerintah dorong pertanian kedelai dalam negeri untuk mencegah impor. Demikian pula dengan komoditi lainnya, dibutuhkan pengorbanan dari semua komponen masyarakat untuk melakukan substitusi konsumsi juga untuk memperkuat ekonomi domestik mencegah impor yang tinggi," demikian Dahnil.
[zul]
BERITA TERKAIT: