"Seharusnya Gita konsen dengan pekerjaannya sebagai Menteri Perdagangan, kecuali mau mundur," ujar . Direktur SUN Institute, Andrianto, kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu (4/9).
Salah satu contoh kegagalan Gita adalah mengurusan kedelai. Gita gagal memenuhi pasokan kedelai dari luar yang menjadi tanggungjawabnya sebagaimana ditugaskan Presiden SBY melalui Peraturan Presiden yang diterbitkan Mei 2013. Sehingga untuk tahun ini harga kedelai mengalami kenaikan sebesar 49 persen menjadi Rp 8.200 per kg.
Andrianto mengingatkan Gita untuk melakukan evaluasi diri apa pantas maju sebagai capres. Bukankah dalam berbagai kesempatan Presiden SBY meminta agar menteri fokus bekerja karena umur pemerintahan tinggal setahun lagi.
"Langkah Gita yang ngotot nyapres sangat membingungkan karena posisinya sebagai Menteri Perdagangan tanpa prestasi," tutur Andrianto.
Lebih lanjut Andrianto mengatakan Gita percaya diri terkait pencapresannya karena geer didukung SBY padahal sejak awal SBY tidak merestui pencapresan Gita. Enam bulan lalu, salah satunya karena kasus kedelai, SBY sudah membuka sinyal tidak mendukung Gita. Begitu sebaliknya dengan Gita. Gita sudah menerima sinyal tidak didukung SBY.
"Saat ditanya mana ijin SBY, Gita jawab tidak perlu. Itu artinya Gita geer duluan," tandas Andrianto.
[dem]
BERITA TERKAIT: