Ilmuwan Indonesia Temukan Pendekatan Baru untuk Tanggulangi Gangguan Penglihatan Anak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 30 Agustus 2013, 08:30 WIB
Ilmuwan Indonesia Temukan Pendekatan Baru untuk Tanggulangi Gangguan Penglihatan Anak
taruna ikrar/net
rmol news logo . Posisi Indonesia di bidang kodektaran kembali diperhitungkan di dunia internasional. Kini ilmuwan Indonesia sudah menemukan pendekatan baru untuk menanggulangi gangguan penglihatan anak. Ilmuwan ini mengidentifikasi neuron jenis penghambat, yang menjadi kunci penting dalam perkembangan kemampuan melihat pada anak.

Adalah Dr. Taruna Ikrar, PhD, ilmuwan asal Indonesia yang menemukan peran utama jenis inhibitory neuron yang  menjadi kunci dalam memediasi bagian penting dari pengembangan penglihatan tersebut. Ia yang bekerjasama dengan University of California Los Angeles (UCLA), menemukan pendekatan baru untuk memperbaiki gangguan penglihatan pada anak-anak yang menderita katarak atau amblyopia, bahkan dapat melakukan pencegahan sejak awal, sehingga kelak dapat  mengurangi kecacatan pada penglihatan anak tersebut.

Dalam dunia kedokteran, anak-anak yang menderita amblyopia dan katarak dalam perkembangannya dapat mengakibatkan cacat permanen pada penglihatan, bahkan sekalipun telah dilakukan operasi pengangkatan katarak atau dan memperbaiki aksis amblyopia (Kelemahan penglihatan). Kekurangan ini sering merupakan akibat dari perkembangan sistem saraf otak yang tidak benar atau dengan kata lain terjadi suatu kesalahan perkembangan system saraf dalam fase pertumbuhan anak tersebut. Demikian pula karena kelemahan visual selama masa kanak-kanak.

Sebaliknya, ketika terjadi katarak pada orang dewasa akan dilakukan pembedahan koreksi atau pemulihan penglihatan. Pada penemuan tersebut, ditemukan fenomena menarik yang ditunjukkan oleh jenis atau tipe tertentu pada inhibitory neuron (neuron penghambat), yang mengontrol fase atau waktu, "periode kritis," dari pertumbuhan dan perkembangan dalam fase awal penglihatan, sebelum anak berusia 7 tahun.

Taruna dan peneliti lain pun menemukan bahwa fungsi yang tidak tepat dari neuron atau saraf kunci selama periode kritis dalam perkembangan yang bertanggungjawab terhadap kecacatan penglihatan ini. Selain itu, dalam tes pada tikus, Dr. Taruna Ikrar bersama timnya menggunakan senyawa obat tertentu dalam percobaan tersebut.

Percobaan dengan senyawa obat ini untuk membuka kembali fase atau periode kritis ini yang menunjukkan modifikasi dan pengaruh obat tersebut dapat merangsang dan mengobati kecacatan saraf, yang diakibatkan oleh gangguan penglihatan mata selama fase awal pengembangannya. Demikian pula, mereka menunjukkan bahwa obat yang ditargetkan pada neuron yang spesifik dan menjadi kunci pengaturan periode kritis tersebut, menunjukkan mengalami perbaikan gangguan penglihatan sentral pada anak-anak yang pernah menderita amblyopia atau katarak awal.

"Jenis neuron yang spesifik tersebut, meregulasi fase atau periode kritis selama perkembangan anak, yang selama ini masih menjadi misteri. Terobosan kami menguraikan jalan baru untuk perawatan yang dapat mengembalikan penglihatan normal pada anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan awal," kata Taruna dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 29/8).

Hasil penelitian Taruna ini pun diterbitkan di Nature online pada tanggal 25 Agustus 2013, dan Nature edisi cetak pada Minggu ke-4 Agustus. Nature merupakan disebut-sebut sebagai jurnal internasional nomor satu di dunia, khususnya di bidang kedokteran.

Pada tahun lalu, Taruna, yang menempuh post-doctoral di School of Medicine, University of California, Irvine, AS, juga menemukan teknik baru pengobatan kejang epilepsi. Penemuan tersebut dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit yang terbit pada 20 Januari 2012 lalu. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA