Demikian disampaikan Sekjen Suluh Nusantara, Dahroni Agung Prasetyo, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 17/8).
Suluh Nusantara adalah organisasi yang didirikan para antivis lintas organisasi seperti Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)-MPO, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan lain-lain.
Untuk melahirkan regenerasi kepemimpinan, lanjut Dahroni, maka Komite Konvensi juga harus mengundang para tokoh muda yang selama ini memang dikenal memiliki kapasitas dan visioner dalam membangun Indonesia ke depan. Di antara tokoh muda itu misalnya Jumhur Hidahat, Chaerul Tanjung, atau Sandiaga S Uno.
"Jumhur misalnya dikenal sebagai tokoh muda yang progresif, memahami benar pikiran-pikiran pendiri bangsa, serta memiliki banyak gagasan cerdas," ungkap Dahroni, sambil mengatakan bahwa Jumhur sukses mimimpin Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) dan membawa TKI jauh lebih bermartabat dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Karena itu, Agung kembali menekankan agar Komite Konvensi semakin membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada tokoh-tokoh muda. Bila itu dilakukan maka Komite Konvensi akan menjadi berbobot sebab berani dan berhasil menciptakan regenerasi kepemimpinan yang selama ini menjadi harapan anak-anak bangsa.
"Memang kita tidak pernah mendikotomikan tua dan muda. Namun hampir semua tokoh tua kita ini memiliki banyak beban di masa lalu, sehingga mau tak mau tokoh muda harus diundang sebagai alternatif pemimpin di masa mendatang," demikian Dahroni.
[ysa]
BERITA TERKAIT: