"Sebab itu hingga kini Prabowo belum mau mendeklarasikan diri sebagai capres," kata pengamat politik dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf, kepada
Rakyat Merdeka Online, Jumat kemarin (26/7).
Di antara hal berat bagi Prabowo, ungkap Asep, adalah meningkatkan elektabilitas Partai Gerindra. Dengan asumsi
presidential threshold, atau ambang batas partai bisa mengajukan calon presiden, sampai 20 persen, hingga saat ini masih berat bagi Gerindra.
Asep menilai saat ini memang publik lebih melihat paga figur. Dari sisi ini, figur Prabowo yang dinilai luar biasa tidak berbanding lurus dengan caleg yang disodorkan Gerindra. Akhirnya, elektablitas Gerindra masih rendah dan tidak mampu mengimbangi elektabilitas Prabowo.
"Kita akui, kalau kita baca atau lihat di media, visi, misi dan program Prabowo itu sangat bagus. Tapi sayang ini belum membawa angka elektabilitas Gerindra," tegas Asep.
Asep menilai Prabowo sepertinya sadar akan kelemahan Gerindra ini. Karena itu ia tak buru-buru mendeklarasikan diri secara resmi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: