Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (Intrans) Saiful Haq, menjelaskan, kecenderungan politik menunjukkan ada tiga partai yang memiliki momentum untuk menang di 2014, hal yang tidak dimiliki partai lain.
Pertama, PDI Perjuangan dengan euforia publik atas sosok Joko Widodo diyakini akan menderek elektabilitas partai berlambang kepala banteng tersebut. Kedua, Partai Gerindra dengan sosok Prabowo Subianto sebagai antitesis kepemimpinan SBY juga ikut berkontribusi pada elektabilitas partai tersebut.
Ketiga Demokrat, melalui kembalinya kontrol partai ke Majelis Tinggi, serta agenda bersih-bersih oleh SBY, ditambah agenda konvensi yang menjadi terobosan baru Partai Demokrat untuk mencari kandidat capres 2014.
"Dari kecenderungan tersebut, maka tiga partai tersebut kemungkinan besar akan saling berkoalisi," ungkapnya kepada
Rakyat Merdeka Online (Kamis, 20/6).
Perolehan suara pemilu legislatif 2014 akan menjadi penentu negosiasi menuju koalisi. Perdebatan yang akan alot tentu adalah tentang partai mana yang mendapat kursi capres dan siapa yang cawapres.
Meski begitu, Saiful Haq menilai, PDIP dan Gerindra sulit untuk berkoalisi. Karena PDIP punya pengalaman buruk dengan Gerindra dalam Pilkada DKI Jakarta. Satu luka yang belum sembuh dalam waktu dekat. "Yaitu soal klaim Gerindra tentang kemenangan Jokowi-Ahok di DKI," jelasnya.
Yang paling mungkin, menurut Saiful Haq, Demokrat berkoalisi dengan PDIP, sementara Gerindra akan menggandeng Golkar.
Apa mungkin Golkar-Gerindra berkoalisi sementara dua partai ini sama-sama sudah punya capres?
"Golkar adalah partai yang selalu realistis menetapkan keputusan politiknya. Elektabilitas Aburizal Bakrie yang jauh di bawah Prabowo dan Jokowi, akan membuat Golkar berhitung seribu kali untuk memaksakan diri merebut kursi capres. Yah cawapres akan menjadi pilihan yang rasional bagi Golkar," tandasnya.
Penilaian kemungkinan Demokrat-PDIP akan berkoalisi disampaikan Jeffrie Geovanie sebelumnya. Bagi Board of Advisor Center for Strategic and International Studies (CSIS) itu, koalisi kedua partai itu karena adanya kesamaan untuk mendorong tokoh muda maju pada Pilpres 2014 mendatang.
"Kenegarawanan Megawati dan SBY, juga kebesaran hati mereka berdua yang sama-sama tulus menyiapkan pemimpin muda di 2014 ini yang justru menjadi modalitas kedua partai tersebut berkoalisi, kita lihat saja, tidak lama lagi," ungkapnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: