Menurut peneliti Maarif Institute, Endang Tirtana, jika calon presiden yang maju berasal dari kaum muda, mereka bisa menjadi corong aspirasi yang tepat bagi pemilih usia produktif tersebut.
"Ini semacam 'testing theory of presence,' melakukan tes atas teori kehadiran atau representasi. Representasi kelompok muda ini menjadi penting baik bagi elektabilitas partai, maupun bagi keberlangsungan partai itu sendiri," ungkap Endang kepada
Rakyat Merdeka Online (Minggu, 16/6).
Menurut Endang, di antara partai-partai, setidaknya Partai Demokrat lewat konvensi capres dan PDI Perjuangan yang memberi sinyal akan menjagokan anak muda. Almarhum politikus senior PDI Perjuangan Taufiq Kiemas bahkan sudah sering sebelumnya mengungkapkan sebaiknya yang diusung adalah anak muda.
Namun, ungkap Endang, apakah PDI Perjuangan pada akhirnya akan menjalankan apa yang diinginkan suami Megawati Soekarnoputri itu, tentu masih jadi pertanyaan hingga saat ini. "Pertanyaan ini harus dijawab dengan aksi kongkret oleh PDIP sendiri," jelasnya.
Meski begitu, melanjutkan keterangannya, Endang tak menampik, ada sisi kelam kaum muda saat ini. Yaitu, terkait moralitas dan integritas. Karena marak juga kelompok muda yang masih terkotori dengan kasus-kasus korupsi.
"Oleh karena itu, tidak hanya soal kuantitas atau seberapa banyak kelompok muda yang berhasil dijaring sebagai kandidat oleh partai, tapi juga soal kualitas harus menjadi PR besar partai untuk menjalankan sistem rekrutimen kandidat yang menggunakan merit sistem, berdasarkan kualitas moral, kapabilitas kepemimpinan dan pengetahuan," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: