Upaya tersebut misalnya dilakukan dengan mendorong munculnya kepemimpinan lokal guna tegaknya bangunan kebhinnekaan melalui kegiatan MAARIF Award yang dilakukan sejak 2007.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq, dalam acara Tasyakuran yang mengambil tema "Satu Dekade MAARIF, Berkhidmat untuk kebhinnekaan" di Wisma Antara, Jakarta Jumat malam (7/6).
“Anugerah ini didedikasikan pada para aktivis dan pemimpin lokal yang selama ini bekerja tanpa pamrih untuk memuliakan martabat kemanusiaan masyarakat dengan kemampuan kepemimpinan yang mampu menjembatani kemajemukan, baik suku, agama, maupun budaya,†ujar Fajar.
Untuk memperkuat bangunan kebhinnekaan pada ranah pendidikan, pada rentang waktu 2007-2013, Maarif Institute telah melakukan upaya penguatan pendidikan kewargaan yang melibatkan baik institusi pendidikan umum negeri maupun institusi pendidikan swasta berbasis ormas keagamaan.
“Pada 2007-2010, kami telah menggulirkan program Pendidikan HAM di SMA Muhammadiyah Jawa Barat, NTT, dan Sulawesi Tengah dengan melibatkan sebanyak 130 sekolah,†ungkap Fajar.
Sedangkan pada periode 2011-2013, penguatan pendidikan kewargaan dilakukan melalui program Pendidikan Karakter Toleransi dan Anti Kekerasan yang melibatkan 50 SMU Negeri di Kota Surakarta, Yogyakarta, Kabupaten Cianjur dan Pandeglang.
Penguatan pendidikan kewargaan ini juga dilakukan dengan menggunakan media popular melalui prakarsa pembuatan film Mata Tertutup yang dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan diskusi bagai para siswa
“Kami berharap upaya-upaya kecil seperti ini dapat berdampak pada kuatnya bangunan kebangsaan kita. Namun kami sangat menyadari bahwa perjalanan 10 tahun bisa kami lalui karena dukungan banyak pihak yang memiliki komitmen yang sama. Acara tasyakuran ini merupakan ungkapan syukur dan tulus terimakasih kami kepada semua pihak, semoga menjadi kian meluas dukungan tersebut," pungkas Fajar.
Acara Tasyakuran 10 Tahun Maarif Institute ini ditandai peluncuran buku "Catatan 1 Dekade MAARIF 2003-2013" yang ditulis oleh Ahmad Syafii Maarif dkk dan pemutaran film 10 tahun perjalanan lembaga ini.
Dalam kesempatan itu, tampak hadir Buya Syafii Maarif, Hajriyanto Tohari, Jeffrie Geovanie, Rizal Sukma, Daniel Sparringa, Fasli Jalal, Pdt. Andreas Yewangoe, Mgr. Suharyo, Bikkhu Pannyavaro, Romo Magnis Suseno, T.P. Rachmat, Sudhamek AWS, St. Sularto, Agung Adiprasetyo, dan Saiful Hadi.
[zul]
BERITA TERKAIT: