Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, negara berpenduduk 146 juta itu pun tercatat sebagai pemain global, anggota Dewan Keamanan PBB, negara nuklir, negara minyak dan kekuatan ekonomi ketujuh di dunia.
"Prioritas pemerintahan Vladimir Putin melihat ke Kawasan Timur Jauh dan Asia Timur, ciptakan tatanan regional baru dengan pemain baru dunia RRC, Amerika dan Rusia," kata Dubes RI untuk Rusia, Djauhari Oratmangun dalam kunjungan ke redaksi Rakyat Merdeka, Senin (25/3).
Menurut Djauhari, refleksi yang terjadi dari bangunnya kekuatan baru ekonomi di kawasan Timur Jauh dan Asia Timur, seperti mengulang lagi situasi di tahun 50-60 an, ketika ada poros Jakarta-Peking dan Moskow. "Semua ini mesti diantisipasi dengan mengubah persepsi kita tentang Rusia," terangnya.
Dijelaskannya, salah satu yang menarik dengan Rusia, bagaimana semangat kebebasan beragama diberikan dan berkembangnya masyarakat multikuktural dimana Masjid dan Gereja dihidupkan.
"Rusia itu sudah comingback economynya dan siap bergaul secara internasional," terangnya.
Menurut Djauhari, Rusia dan Indonesia dapat
bekerjasama untuk pembangunan keamanan dan ekonomi di Asia jauh. Apalagi, ada banyak kajian dari bekas mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di sana di era
tahun 1950 dan 1960-an terutama di lima universitas di negara itu. Sekalipun saat ini hanya tercatat ada 500 orang Indonesia di Rusia termasuk para staf di Kedubes RI, tapi Indonesia sangat dikenal di Rusia.
"Hubungan antarbudaya dan daya rekatnya luarbiasa. Hubungan ekonomi dan politik tidak serta merta sirna," terangnya.
Dia pun menceritakan delegasi dagang swasta Rusia yang datang ke Indonesia mengolah tambang.
"Bukan ambil mineral tapi mengolah bauksit jadi alumunium. Nantinya, kelolaan ini akan menjadikan produk dengan value added (nilai tambah) yang tinggi.Begitu juga ada kerjasama energy minyak dan gas serta banyak hal lain. Kita musti mengubah persepsi terhadap Rusia yang makin terbuka dalam tatanan dunia, sehingga Rusia jadi partner Indonesia," katanya.
Salah satu diplomat yang pernah bertugas di Rusia, M Aji Surya yang sekarang berkarier di Kemenlu menambahkan, kerjasama dengan Rusia harus dirintis sejak sekarang.
"Kalau tidak, kalau Rusia ibarat kue sudah habis. Umat Islam di Rusia ada 25 juta sudah dimasukin dari berbagai sisi, mulai Iran, Turki, Malaysia. Nah, bagaimana kita merangkul umat Islam yang multikultur sama seperti di Indonesia," terangnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: