Tak pelak lagi, berbagai spekulasi pun muncul soal materi yang diperbincangkan kedua purnawirawan jenderal beda satu angkatan tersebut. SBY angkatan 1973 dan Prabowo 1974.
Hari ini, tepatnya setelah SBY agak sedikit buka-bukaan dalam pertemuannya dengan para pemimpin media massa, juga di Istana Negara, pertanyaan lain muncul. Yaitu, soal siapa yang berinisiatif untuk melakukan pertemuan.
Versi SBY, Prabowo Subianto dan termasuk para tujuh jenderal dan pimpinan Ormas Islam sebelumnya, inisiatif pertemuan datang dari para undangan tersebut. Sebagai tuan rumah, SBY hanya menerima kunjungan.
"Pertemuan dengan tujuh jenderal atas permintaan mereka lewat Pak Sudi (Silalahi). Pak Prabowo melalui SMS kepada saya. Prabowo kirim SMS ketika sedang di luar negeri dan mengatakan siap bertemu saya setelah ia kembali ke Tanah Air," kata Presiden dalam pertemuan dengan para tokoh pers itu.
SBY menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya supaya tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.
Versi Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, pihak Istana yang mengundang capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Hal ini berdasarkan penjelasannya sendiri yang hampir dikutip semua media, termasuk
Rakyat Merdeka Online. Beberapa jam sebelum pertemuan pada Senin itu, intelektual muda tersebut mengkonfirmasi bahwa kedatangan bosnya itu ke Istana adalah selaku undangan dari pihak Kepresidenan.
"Prabowo Subianto diundang Presiden SBY ke Istana," kata Fadli Zon pada Senin pagi. Saat itu, Fadli Zon juga menjelaskan, undangan kepada Prabowo disampaikan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi melalui dirinya. Padahal versi SBY, Prabowo sendiri yang berkirim SMS kepadanya untuk meminta bertemu.
Sebenarnya, pada hari Senin itu juga, pihak Kepresidenan melalui Jurubicara, Julian Aldrin Pasha sudah menyatakan, bahwa Presiden SBY justru yang menerima permintaan audiensi dari mantan Danjen Kopassus tersebut.
[zul]
BERITA TERKAIT: