"Justru saya orang baru, dan teman-teman lain yang kemarin menyampaikan pernyatan itu juga orang baru, berkontribusi ikut memikirkan partai supaya tidak mengalami kemorotan drastis di Pemilu mendatang. Partai ini sekarang anjlok elektabilitasnya," ujar Ulil kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini (Minggu, 17/2).
Menurut Ulil, solusi atas kemorosotan elektabilitas tersebut adalah dengan mengganti Ketua Umum, yang saat ini dijabat Anas Urbaningrum. Ibarat sebuah perusahaan, kalau penjualannya merosot drastis lebih dari 100 persren, adalah masuk akal kalau CEO diusulkan untuk dicopot.
"Apalagi merosot penjualannya itu lebih dari 100 persen. Dulu Demokrat tahun 2004, 7 persen, lalu 2009, 21 persen. Sekarang merosot 200 persen menjadi 8 persen. Jadi bayangkan, kalau ada perusahaan penurunan penjualan seperti itu, apa tidak panik Dewan Komisaris, anggota perusahaan. Panik itu bukan sesuatu yang aneh. Kalau tak panik aneh, itu yang aneh," ungkapnya.
Lagi-lagi, kata dia, karena orang baru itulah, dia bisa bicara apa adanya memberikan solusi untuk kepentingan partai. Apalagi, kata Ulil, dia tidak punya jabatan penting di partai atau di DPR, yang dipertaruhkan.
"Orang baru ini tidak punya sesuatu yang di-
gondeli, nothing to lose. Kita tidak punya kepentingan terlalu besar. Jadi bicara apa adanya. Kalau orang punya kepentingan besar mungkin mengambil langkah ini, itu, takut. Kamu tidak punya sesuatu yang harus dipertahankan. Buat kami yang penting, kami orang baru, masuk partai tiba-tiba partai merosot terus. Kami kan khawatir. Saya tidak mau terjadi itu," demikian Ulil, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: