Di tahun 2013 sudah sepatutnya bangsa Indonesia mengubah cara pandang terhadap leluhur dan peradaban yang mereka bangun. Cara pandang itu harus lebih maju dari apa yang selama bertahun-tahun ini sudah terlanjur diyakini serta dijadikan pijakan berfikir dan bertindak bangsa Indonesia.Demikian resolusi 2013 yang disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (1/1). Andi Arief memiliki perhatian yang cukup besar pada upaya menemukan kembali jejak peradaban nusantara di masa lalu. Penelitian kebencanaan yang dilakukan kantornya beberapa tahun terakhir ini telah membawa ia dan timnya pada sebuah pertanyaan besar: bagaimana peradaban di masa lalu menangani bencana di atas the ring of fire ini.
Dalam sejumlah penelitian yang menggunakan peralatan teknologi canggih mereka menemukan struktur geologi yang tidak normal di sejumlah titik yang dekat dengan patahan yang merupakan salah satu titik pemicu bencana geologi. Salah satunya di Gunung Padang, Cianjur di Jawa Barat.
Menurut Andir Arief, leluhur bangsa Indonesia yang membangun peradaban tinggi di masa lampau pasti menginginkan pewaris peradaban mereka mampu membangun peradaban yang sejahtera seperti kesejahteraan yang mereka alami kala itu hingga bencana atau mungkin peperangan meluluhlantakkan.
Alumni Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah menulis buku tentang teori hegemoni Antonio Gramsci mengatakan, tak mungkin leluhur bangsa Indonesia yang beradab dan memiliki pengetahuan tinggi ingin agar generasi setelah mereka hanya memiliki ilmu menjaga batu-batuan baik yang tersusun maupun yang tercecer lalu menjadikannya sekadar sebagai cagar yang dianggap sakral atau sekadar objek pariwisata.
"Rasanya tak mungkin kita hanya diwarisi bangunan candi, batu besar berserakan, batu bata merah, bekas kanal dan berbagai artefak dari Sabang sampai Marauke, yang itu pun sebagian besar ditemukan bangsa asing," ujar Andi lagi.
Andi Arief khawatir bangsa Indonesia terjebak pada pemikiran bahwa peradaban nusantara di masa lampau adalah primitif, tidak memiliki peninggalan peradaban yang tinggu sehingga dengan demikian tidak perlu dieksplorasi jejak-jejak yang ditinggalkannya. Apalagi primitif selalu diasosiasikan sebagai hidup di dalam goa.Â
"Kita yakin kunci-kunci kesejahteraan itu ada dan sampai kini letaknya menyebar. Batu, bangunan megah, artefak dan lainnya hanya memberi petunjuk bahwa ada warisan kesejahteraan yang ikut terkubur," kata mantan ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) ini.
Masih katanya, kesalahan terbesar selama ini adalah menyerahkan warisan leluhur hanya pada cabang ilmu tertentu yang sudah terlanjur tidak mau berdialog. Hanya multi disiplin ilmu yang akan mengetahui dimana sumber kesejahteraan itu berada.
"Saatnya hijrah dari paradigma artefak ke paradigma kesejahteraan di balik artefak," demikian Andi Arief. [guh]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: