“Kegiatan Exit Program II Tahun 2012 Bagi TKI di Hong Kong menghasilkan beberapa hasil penting sebagai bekal TKI sekembalinya dari sana,†ujar Prakoso BS, kepada
Rakyat Merdeka Online, melaporkan hasil kunjungan kerjanya ke Hongkong.
Menurut Prakoso BS, Kegiatan Exit Program II Tahun 2012 merupakan bagian dari pembinaan KJRI Hong Kong kepada seluruh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. Acara sendiri diselenggarakan pada tanggal 18 November 2012 bertempat di Olympic House Stadium Hong Kong yang dihadiri lebih 300 peserta TKI yang berasaI dari unsur umum, organisasi TKI dan Agency penempatan TKI di Hong Kong, acara Exit Program II Tahun 2012 dibuka secara resmi oleh Irjen Kementerian Luar Negeri RI. Bapak Sugeng Raharjo.
“Kegiatan Exit Program II diperuntukkan bagi tenaga kerja Indonesia yang telah bekerja sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun dan berkeinginan untuk pulang ke tanah air tanpa bermaksud kembali Hong Kong sebagai TKI, adapun maksud dan tujuannya adalah untuk memberikan orientasi kepada para TKI agar sekembalinya ke Indonesia tidak mengalami hambatan-hambatan baik dari aspek psikologis maupun sosial budaya dan dapat beradaptasi dengan lingkungannya,†katanya.
Menurut Koko, panggilan akrab Prakoso BS, jumlah TKI yang bekerja di Hong Kong sejak Tahun 1993 berjumlah 6.100 orang. Sampai saat ini per November 2012 kata dia, berjumlah 151.597 orang yang terdiri dari jenis kelamin wanita 99,99 persen dan pria 0,01 persen, dengan daerah asal 54,4 persen Jatim, 31,8 persen Jateng, 8 persen Jabar, 0,2 persen NTB, 0,3 persen NTT, 0,1 persen Sulut, dam 0,1 persen DIY.
Posisi Kementerian Koperasi dan UKM, dalam kegiatan Exit Program II, kata Koko, menyampaikan materi tentang Kebijakan dan program pengembangan KUMKM khususnya perkoperasian dan kewirausahaan.
Menurutnya, gambaran secara ringkas tentang perkembangan Koperasi dan UMKM, serta peran pemerintah dalam upaya meningkatkan jumlah UKM melalui gerakan kewirausahaan nasional dimana saat ini sudah mencapai 1,56 persen , membuat pemahaman para TKI di Hongkong menjadi bertambah.
“Program penumbuhan dan pengembangan kewirausahaan yang diawali dengan sosialisasi kewirausahaan, pelatihan kewirausahaan, fasilitasi permodalan dan pendampingan membuat peserta sangat antusias bisa eksis sekembalinya dari Hongkong,†katanya.
Apalagi kata Koko, peserta kegiatan exit program II ini adalah para TKI yang telah dilatih oleh KJRI bekerjasama dengan Forum Peningkatan Martabat Tenaga Kerja (Penimarka), sehingga berbagai ketrampilan telah dikuasai menjadi modal untuk berwirausaha setelah kembali ke Indonesia, masalah modal bagi mereka telah bekerja cukup lama sangat memadai untuk dapat digunakan untuk memulai usaha.
Menurut Koko, di awal tahun 2013 Para peserta kegiatan exit program II ini sebagian besar habis masa kontraknya sebagai TKI, sebagian besar berkeinginan akan kembali ke tanah air dan menjadi wirausaha tidak lagi sebagai TKI, untuk itu mereka berharap dapat mengikuti program penumbuhan dan pengembangan kewirausahaan yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM.
“Kedepan Kementerian Koperasi dan UKM Cq. Deputi Bidang Pengembangan SDM bekerjasama dengan KJRI setempat akan mengirimkan tenaga fasilitator kewirausahaan ke luar negeri untuk memberikan pengetahuan kewirausahaan serta motivasi dan semangat wirausaha bagi para TKI di Luar Negeri, khususnya Hong Kong,†katanya.
[dzk]
BERITA TERKAIT: