Anak-anak Korban Konflik Sampang Dihibur Para Pendongeng

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Senin, 03 September 2012, 18:32 WIB
Anak-anak Korban Konflik Sampang Dihibur Para Pendongeng
ilustrasi
rmol news logo Tim Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuK) dari Satgas Perlindungan Anak hari ini masih melanjutkan misi kemanusiaannya menemumui anak-anak korban konflik di Sampang, Madura.

Tim para pendongeng  tidak hanya menghibur anak-anak pengungsi di GOR Sampang, tapi juga anak-anak yang tinggal di Kampung Karang Gayam dan Blu'uran yang menjadi tempat peristiwa penyerangan jamaah Syi'ah di Sampang.

Menurut Kepala Sekretariat Satgas PA, yang juga pemimpin rombongan para pendongeng, Ilma Sovriyanti,  semua anak-anak, baik yang orang tuanya Sunni maupun Syiah, merupakan korban konflik yang dilakukan orang dewasa. Tidak semestinya mereka dilibatkan dalam konflik karena mereka tidak mengerti apa yang terjadi.

Anak-anak perlu dihibur untuk menghapus trauma dari kekerasan yang mereka saksikan saat kejadian.

"Anak-anak tidak boleh dilabeli Sunni atau Syiah. Mereka adalah anak-anak yang semestinya bisa tumbuh dalam suasana yang nyaman tanpa kekerasan," ujar Ilma dalam keterangan pers yang diterima petang ini (Senin, 3/9).

Ilma menambahkan, untuk anak-anak yang tinggal di pengungsian, dongeng dilakukan sebagai metode untuk trauma healing dan penguatan agar mereka tidak larut dalam kesedihan. Sementara untuk anak-anak yang di luar pengungsian, dilakukan untuk menyemai bibit perdamaian dan menghilangkan kebencian terhadap sesama.

Para pendongeng yang ikut misi ini  terdiri dari Kak Ryan, Kak Resha, dan Kak Toni yang kemudian dilanjutkan oleh Kak Awam.

Rombongan ini bekerja sama dengan Yayasan Deni JA yang selama ini aktif mengkampanyekan gerakan Indonesia tanpa diskriminasi. Sementara di lapangan mereka bekerja sama dengan relawan Komite Anak Sampang sejak hari pertama telah melakukan psikosial bagi anak-anak pengungsi.

Menurut data, saat ini di pengungsian ada 53 anak lelaki dan 46 perempuan. Sementara balita laki-laki sebanyak 18 anak dan 19 perempuan. Mereka hidup seadanya di pengungsian dan terpaksa bersekolah di sekolah darurat. Beberapa anak sudah terserang tom cat, diare, dan ISPA. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA