Di halaman berukuran sekitar 10X15 meter, 50-an anak-anak yang umumnya masih duduk di Sekolah Dasar (SD) duduk rapi. Di bawah pohon kelapa dan pohon jambu, dengan menghadap ke laut, mereka terlihat ceria dan tertawa bersama.Di belakang mereka terdapat spanduk ukuran besar. Sementara di depan, mengarah laut, berdiri dua tenda, yang biasa dipakai untuk berkemah. Tak hanya anak-anak, para ibu rumah tangga, anak gadis, bahkan juga nenek-nenek, yang berdiri di sebelah, turut larut dalam tertawa. Tak ketinggalan, bapak-bapak, dan anak muda memeriahkan acara pada siang jelang sore di hari Jumat (24/8) kemarin itu.
Saat itu mereka memang sedang mendengarkan dongeng dari Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuK). Sambil memperkenalkan diri, sebanyak 10 para pendongeng dan seorang pendongeng cilik, mengocok perut warga Pulau Tunda tersebut.
Tunda, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, di sebelah utara Teluk Banten. Untuk menuju kawasan yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten, itu harus menggunakan kapal perahu selama kurang lebih dua jam dari Pelabuhan Karang Antu, Serang.
Sebagian besar dari anggota GePPuK membawakan cerita dongeng, tapi ada juga yang memandu bermain games dan unjuk kebolehan dalam bermain sulap. Salah satu di antaranya, pendongeng mengangkat cerita tentang si Ahsan yang tetap gembira di Hari Raya Idul Fitri meski tak berbaju baru. Karena esensi berlebaran bukan terletak pada baju.
Hari itu, GePPuK menggelar acara wisata sosial dengan tema "One Day 4 Children Tunda Island" selama 2 hari, Jumat-Sabtu (24-25/8).
Salah seorang anak yang ikut dalam acara itu, Zainal Sholikin, mengaku sangat senang mengikuti acara tersebut. Dongeng yang disampaikan para pendongeng, belum pernah ia dengar sebelumnya. "Seru. Saya senang," ujar Ikin, panggilan anak kelas 6 SD tersebut, sesudah acara perkenalan yang berakhir sekitar pukul 16.00 WIB itu.
GePPuK merupakan federasi LSM atau individu yang konsen dalam dunia dongeng. Yaitu, Dongeng Ceria Management (DCM), Klab Cerita, Pustaka dan Kreatifitas Anak Nusantara (Cekatan), Kidsz Smile Foundation, Klub Dongeng Kampung Anak untuk Kreativitas (Kanvas), Pendongeng Keliling Nusantara Kak Sidik dan pendongeng Kak Ucon.
Sementara pada malam harinya, acara kembali dilanjutkan. Bila pada siang para anak-anak mendengar dongeng, kali ini mereka yang beraksi dengan tema Mendadak Jadi Pendongeng. Para anak-anak membawakan puisi dengan mengikuti apa yang disampaikan oleh para pendongeng dari GePPuK.
Malam itu acara juga diisi dengan nonton bareng Film Trio Idiot. Film India yang memotivasi anak-anak untuk belajar tanpa ada tekanan. Namun, karena alur cerita terlalu panjang, membuat anak-anak tidak sampai akhir menonton. Orang tua yang akhirnya menonton. "Sebenarnya memang itu film remaja," kelas Kak Dwi, dari Klub Dongeng Kanvas.
Dalam rangkaian acara tersebut, semua pendongeng dari GePPuK dan para peserta acara yang berasal dari Jakarta, yang semuanya membawa keluarga, menginap di rumah-rumah warga yang telah ditentukan. Di rumah-rumah itu, pendongeng dan peserta "One Day 4 Children Tunda Island" juga makan serta mandi. Tak hanya itu, sebelum tidur para pendongeng kembali mendongeng kepada anak si empunya rumah.
Kemeriahan kampung dan kesenangan anak-anak Pulau Tunda berlanjut pada keesokan harinya, Sabtu (25/6). Pagi itu, digelar acara berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Indonesia, yang jatuh pada 17 Agustus lalu. Anak-anak terlihat senang dan tertawa ketika larut dalam perlombaan makan kerupuk.
Jelang tengah hari, acara-acara yang ditunggu oleh semua keluarga pendongeng dan peserta dari Jakarta datang juga. Menggunakan dua kapal perahu, beserta anak-anak kampung, mereka berlayar ke satu titik tidak jauh dari pelabuhan Pulau Tunda. Semuanya tak menyianyiakan waktu langsung ber-snorkeling (selam permukaan) melihat keindahan dasar lautan. Meski sebagian harus antre karena peralatan yang terbatas. Tapi, semuanya tampak senang bermain-main di laut selama lebih dari dua jam tersebut.
Snorkeling merupakan kegiatan terakhir "One Day 4 Children Tunda Island" sebelum akhirnya prosesi perpisahan.
Seperti saat kedatangan sebelumnya, pada saat hendak berpisah ini, juga digelar makan bersama di belakang lokasi acara, tepatnya di halaman rumah tokoh masayakat setempat, Saifuddin. Pendongeng dan peserta melalap habis ikan bakar, yang disediakan. Di penghujung acara, GePPuk menyerahkan bantuan sembako dan 25 buah sepeda kepada anak-anak pulau berpenghuni sekitar 450 KK tersebut.
Dalam acara penutupan itu, Koordinator Acara, Ade M. Syafaat, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Pulau Tunda yang telah menerima kedatangan mereka. Dia juga meminta agar bantuan yang diberikan itu dirawat dengan baik. "Bantuan pasti akan habis. Ini juga bukan dari kami. Tapi donator di Jakarta, Bandung. Makanya tolong dirawat," ujar Kak Ade, demikian pendongeng dari Dongeng Ceria Management (DCM), itu akrab disapa.
Kang Jarot panggilan akrab Saifuddin menyambut baik acara tersebut. Acara "One Day 4 Children Tunda Island" ini, katanya sangat bagus dan memuaskan.
"Anak-anak merasa terhibur. Karena disini nggak ada tempat bermain. Anak-anak ini bermainnya ya, di laut. Paling malam menonton sebelum tidur. Karena disini listrik hanya ada malam. Makanya, ketika ada acara seperti ini mereka sangat antusias," ucapnya.
Karena itu dia berharap, acara seperti itu jangan hanya sekali digelar setiap tahun. Dia meminta, acara serupa dihelat dua atau tiga kali dalam setahun. "Aneh, kita diberikan bantuan berupa sepeda. Saya mengucapkan terima kasih. Ini kebanggaan. Ini sesuatu yang luar biasa. Baru kali ini ada bantuan sepeda," ungkapnya menanggapi bantuan sepeda itu.
Sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan dari Jakarta pun meninggalkan Pulau Tunda diiringi anak-anak pulau menggunakan sepeda menuju pelabuhan. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: