Menanamkan Sifat Tawadhu'

Oleh Hatta Rajasa

Kamis, 09 Agustus 2012, 01:08 WIB
Menanamkan Sifat Tawadhu'
MANUSIA adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Keterbatasan manusia meliputi segala hal. Fisik dan jasmani manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Akal dan pikiran manusia dibatasi oleh luasnya samudera pengetahuan ilahi. Dan yang lebih penting, usia dan umur manusia dibatasi dalam skala waktu yang diberikan Allah SWT.

Menyadari akan semua keterbatasan tersebut, sudah semestinya setiap manusia memiliki sifat tawadhu' (rendah hati). Orang yang rendah hati adalah orang yang meneguhkan keagungan dan kemahakuasaan Allah SWT. Baginya, Allah adalah sumber kehidupan sejati. Tanpa kasih dan sayang Allah, niscaya tidak ada satu pun cita dan harapan yang dapat terwujud.

Inilah barangkali hikmah dibalik bacaan takbiratul ihram dan takbir intiqal (pindah gerakan) dalam setiap shalat. Dengan mengucapkan Allahu Akbar (Allah maha besar), maka semua yang ada menjadi sangat kecil, termasuk diri sendiri. Harta dan kekuasaan menjadi tidak berarti dibandingkan dengan kebesaran Allah SWT.

Kesadaran semacam ini perlu ditumbuhkan untuk melahirkan jiwa yang tawadhu'. Tawadhu' adalah elemen penting dalam membina karakter manusia. Dengan tawadhu', manusia akan terhindar dari sifat sombong. Sementara sifat sombong adalah suatu sifat yang dilarang oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 37 yang berbunyi, "Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan".

Secara umum, ada dua jenis tawadhu' yang dianjurkan oleh agama, yaitu tawadhu' kepada Allah dan tawadhu' kepada sesama manusia. Tawadhu' kepada Allah adalah sikap rendah diri kepada Allah atas kesadaran bahwa alam semesta dan seisinya adalah berada dalam genggaman Allah. Apa pun prestasi dan capaian hidup yang diraih tidak lepas dari bantuan dan campur tangan Allah. Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menentang segala ketentuan yang digariskan oleh Allah.

Orang yang tawadhu' kepada Allah adalah orang yang mau menundukkan kepala serta bersyukur atas segala karunia yang dianugerahkan kepadanya. Tawadhu' kepada Allah dapat dimanifestasikan dengan cara menjadikan Allah sebagai orientasi hidup. Semua tindakan dan aktivitas kehidupan hanyalah dalam rangka meraih ridha Allah.

Sedangkan tawadhu' kepada manusia adalah sifat rendah hati di hadapan sesama manusia atas kesadaran bahwa setiap manusia masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Serendah apa pun kelas sosial seseorang, pastilah ia memiliki kelebihan yang secara khusus diberikan Allah kepadanya. Dengan demikian, tidak pantas seorang manusia merasa lebih hebat daripada manusia lain. Kesadaran seperti inilah yang dapat menanamkan sifat tawadhu' dalam diri manusia.

Orang yang tawadhu' adalah orang yang ketika melihat kekurangan orang lain rasa syukurnya semakin bertambah kepada Allah. Ia merasa bersyukur karena Allah memberikannya karunia melebihi yang didapatkan orang lain. Sebaliknya, orang yang menggunakan kekurangan orang lain untuk membangga-banggakan diri adalah orang sombong yang lupa diri.

Orang tawadhu' selalu berusaha menutupi kehebatan dan kelebihanya. Andaikata ia terpaksa mempertontonkan kehebatan dan kelebihannya, maka hal tersebut diniatkan sebagai bagian dari fastabiqul khairat (berpacu untuk menjadi yang terbaik). Ia berharap agar kehebatan dan kelebihannya dapat memotivasi orang lain untuk meraih prestasi yang sama.

Bulan Ramadan adalah bulan pembinaan diri. Keikhlasan dalam beribadah kepada Allah sejatinya dapat beriringan secara bersama dalam membina pribadi-pribadi yang tawadhu'. Dengan memupuk sifat tawadhu', akan tercipta hubungan yang harmonis di antara sesama manusia. Relasi dan tatanan sosial yang harmonis adalah modal penting dalam membangun dan menata peradaban bangsa. Wallahua'lam. [***]

Penulis adalah Menko Perekonomian RI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA