Kebesaran dan keindahan alam semesta ada pada keanekaragamannya. Keanekaragaman adalah ciri alamiah dan sekaligus ilmiah Alam Semesta. Keanekaragaman merupakan hukum alam semesta untuk proses pertumbuhan menuju ke kesempurnaan.
Ibarat taman, Indonesia adalah sebuah taman yang demikian indah dengan warna-warni bunga keanekaragaman. Warna-warni suku, bahasa, adat-istiadat, budaya, agama, dan sebagainya adalah karunia alamiah dari Allah Yang Maha Kuasa yang perlu kita pelihara dan pupuk agar bertumbuh-kembang menjadi taman bersama yang membahagiakan penghuninya sekaligus menarik orang lain mengunjunginya.
Memelihara dan memupuk taman indah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama, bangsa Indonesia.
Demikian benang merah Workshop Penyusunan Modul Interfaith Home Stay yang selenggarakan Al Wasath Institute bekerjasama dengan Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI. "Acara workhop ini sebagai tindak lanjut dari Interfaith Home Stay yang telah dilaksanakan awal Juli laluâ€, ujar Direktur Eksekutif Al Wasath Institute Faozan Amar di Hotel Aulia, Cikini, Jakarta Pusat (Senin, 16/7).
Faozan menambahkan, melalui workshop ini diharapkan ada guidance dalam melaksananakan kegiatan Interfaith Home Stay, sebagai bagian dari model-model dalam merawat dan memelihara taman indah NKRI.
Materi dalam workshop meliputi; Konteks dan Relevansi Interfaith Home Stay di Indonesia; Interfaith Home Stay dalam Konteks Hukum dan Politik di Indonesia; Membumikan Wawasan Multikultural di Indonesia; Agama, Pluralisme, dan Pancasila sebagai Habitus Baru, serta Model-model Interfaith Home Stay Tinjauan Paedagogis dan Sosiologis.
Narasumber dalam workshop tersebut adalah Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI Prof. Abdul Rahman Mas’ud; Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti; Sekretaris Eksekutif Komisi Hak KWI Pusat Romo Benny Susetyo PR; dan Ketua Hubungan Internasional Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat KS Arsana.
Menurut Prof. Abdul Rahman Mas’ud, kegiatan Interfaith Home Stay sangat penting dan strategis karena kontekstual dengan kondisi bangsa Indoensia yang majemuk; relevan dengan, dan membantu, tugas dan fungsi Pemerintah dalam hal pemeliharaan kerukunan umat beragama. Secara substansial, kegiatan ini adalah sebentuk silaturahim antar sesama warga bangsa untuk saling mengenal identitas, memahami pikiran, menghormati pilihan, dan merengkuh langkah bersama ke arah tujuan bersama yang lebih besar.
Sedangkan, Romo Benny Susetyo mengemukakan sebagai pemeluk agama yang benar-benar memanifestasikan imannya untuk kedamaian di dunia, kita benar-benar dibuat sedih. Jika konflik atas nama agama dibenarkan, hilanglah nurani dan hakikat agama itu sendiri. Agama tak lagi menjadi payung perdamaian karena sudah mengalami politisasi dan fanatisme.
"Dialog antaragama dan komunikasi antariman antara lain dalam bentuk Interfaith Home Stay dengan demikian, akan menjadi sesuatu yang amat berharga dalam rangka menyelesaikan konflik," ujarnya menambahkan.
Sementara itu KS Arsana mengusulkan agar program Interfaith Home Stay (IHS) dapat dilaksanakan dengan baik, maka harus berlandaskan “INDONESIAâ€, yaitu: Integrity (Integritas) Nationalism (Nasionalisme), Democracy (Demokrasi) Oneness(Kesatuan), Nature (Alam), Enjoyment (Menyenangkan), Spiritual (Rohani), Inspiration (Inspirasi) dan Actions (Aksi-aksi). Dengan demikian, kegiatan Interfaith Home Stay tetap berpijak pada bumi Indonesia yang beraneka ragam sukua, agama, ras dan antar golongan†ujar Arsana menambahkan.
Sedangkan Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengemukakan diperlukan lima sikap yang mendukung terselenggaranya Interfaith Home Stay. Yaitu, terbuka pada hal yang berbeda. Understanding atau memahami mengapa orang lain melakukan suatu perbuatan. Acceptant atau penerimaan. "Toleransi saja tidak cukup karena hanya bentuk pembiaran, tetapi bagaimana menerima perbedaan itu sendiri," jelasnya.
Sedangkan keempat akomodasi, yakni jangan terlalu kaku dengan peraturan yang sudah ada, jika kita mampu, penting juga untuk membantu.
"Kelima cooperation, kerjasama dengan orang lain akan bisa dicapai kalau model-model Interfaith Home Stay ini dibangun dengan intensitas, seperti meningkatkan pertemuan," tandasnya.
Acara Workshop Penyusunan Modul Interfaith Home Stay dilaksanakan selama sehari penuh dan diikuti oleh 6 (enam) perwakilan agama di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Peserta juga dari kalangan akademisi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergiat dalam bidang agama dan kemanusiaan.
"Diharapkan dengan selesainya Workshop tersebut, modul Interfaith Home Stay dapat segera terbit, sehingga dapat menjadi guidance dalam melakanakan Interfaith Home Stay sebagai model-model dalam mewujudkan kerukunan umat beragama di Indonesiaâ€, tandas Faozan Amar.
Ahmad Ridwan Arif, salah seorang peserta workshop, mengungkapkanm penyusununan modul ini memang sangat penting, tapi yang lebih penting lagi adalah agar modul tersebut bisa digunakan oleh semua kalangan komunitas agama dengan bahasa yang mudah difahami, serta tersosialisasi dengan baik. "Jika tidak, maka hanya akan menjadi lembaran kosong tanpa makna, ujarnya singkat. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: