"Itu penyebab utamanya. Itu pandangan saya dan itu yang dilihat oleh lembaga survei," kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, di gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta (Selasa, 19/6).
Tidak benar, kata dia, jika penurunan elektabilitas Partai Demokrat seiring menurunnya kinerja pemerintahan SBY bagi publik. Tidak ada korelasi secara langsung antara keduanya.
"Coba tanya sama lembaga survei. Menurut saya ada perbedaan, tidak bisa disamakan antara kinerja pemerintah dengan partai. Kan sering terjadi SBY tetap di atas, partai tetap di bawah. Jadi itu tidak korelasi secara langsung," sebutnya.
"Tapi ini bukan untuk meng
counter pernyataannya Anas. Nanti diplintir. Saya mohon jangan," tambah dia.
Adalah fakta, kata Wakil Komisi I DPR RI ini, perolehan suara Partai Demokrat tinggi karena sosok SBY. Masalahnya, ke depan SBY tidak akan menjadi lagi feeding icon karena tidak jadi Capres lagi. Persoalan lainnya, kasus hukum yang melilit kader partai membuat situasinya tambah berat. Oleh karenanya, kata dia, perlu ada penanganan secara khusus yang dilakukan oleh DPP.
"Ini masalah serius, bukan masalah sederhana. Pada pemilu, partai hanya mendapat 20 persen, SBY 61 persen. Tidak bisa sebanding. Kita berpikir seperti itu. Jadi tidak percuma kalau kita di PD dibilang, berpikir
lha secara cerdas," sindir Hayono.
[dem]
BERITA TERKAIT: