"Jakarta inikan Ibukota dari Indonesia. Ini adalah kotanya semua rakyat Indonesia, bukan hanya kotanya Gubernur DKI Jakarta saja. Tapi saya bisa memaklumi kenapa Pak Foke begitu mementingkan status. Karena prestasinya agak ketinggalan dibandingkan gubernur-gubernur dari provinsi lain," kata Alex Noerdin yang mendapatkan penghargaan Gubernur terbaik di Indonesia baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Beberapa bulan yang lalu, Alex Noerdin bahkan mendapatkan penghargaan bendera segitiga dari Pemerintah Amerika Serikat karena program-programnya dianggap telah mampu mengatasi masalah kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan di Sumatera Selatan dalam waktu yang relatif singkat.
"Mengenai tuduhan 'mengadu nasib' saya terus terang jadi tambah kasihan ke Pak Foke karena di Jakarta ini yang merasa nasibnya bagus kayanya cuma Gubernurnya saja. Rakyat Jakarta baik yang kaya, menengah maupun kelas bawah justru stress karena macet dan banjir bikin semua orang susah dan dirugikan," tambah Alex.
Menurutnya, sebenarnya setiap gubernur atau Bupati, atau kepala daerah lainnya harus mampu menyusun prioritas yang bisa diselesaikan dalam satu kali masa jabatan.
"Kalau prioritas disusun bukan berdasarkan kebutuhan rakyat melainkan diulur berdasarkan siklus pilkada ya pasti repot, dan kasihan rakyatnya. Karena yang bisa selesai setahun diulur jadi lima tahun, dan yang bisa lima tahun diulur jadi delapan tahun," kata Alex sambil menunjukkan bahwa kalau mau.
Selain itu, menurut Alex, kesalahan utama Fauzi Bowo adalah karena tidak percaya dan memberdayakan wakil gubernurnya secara optimal.
"Wakil Kepala Daerah adalah jabatan serius dan sangat strategis untuk dimanfaatkan demi kepentingan rakyat. Kalau wakil gubernur hanya dipakai sebagai simbol dan syarat pilkada saja ya pasti akan kewalahan sendiri. Oleh karena itulah saya memilih Pak Nono Sampono yang terbukti merupakan calon wakil gubernur terbaik dari semua pasangan," Alex menegaskan.
Program '3 Tahun Bisa' yang diusung oleh pasangan Alex-Nono semakin hari semakin menarik pendukung, khususnya setelah masyarakat bertemu langsung dengan kedua tokoh.
"Kami di Sumsel bangga kalau Pak Alex bisa membenahi Jakarta sebagai Ibukota kami juga. Di Sumsel ini beliau terbukti serius bekerja dan mengabdi untuk rakyat sehingga banyak pekerjaan besar yang diselesaikan secara singkat," kata seorang tokoh Sumsel beberapa waktu lalu sambil menunjukkan kompleks olah raga Jaka Baring dengan luas 350 hektar yang tadinya hanya rawa-rawa telah disulap menjadi sarana bertaraf internasional dalam waktu 11 bulan.
[mar]
BERITA TERKAIT: