RMOL.Belum pernah soal mobil listrik dibahas seserius ini. Serius pembahasannya, tinggi level yang membahasnya, dan Presiden SBY sendiri inisiatornya. Bahkan beliau sendiri pula yang memimpin rapatnya. Ini terjadi Jumat sore lalu di Istana Negara Jogjakarta. Lebih separo menteri anggota kabinet hadir. Semua rektor perguruan tinggi terkemuka diundang: UI, ITB, ITS, UNS, UGM, dan lain-lain. Para rektor itulah yang menyiapkan presentasi hasil kajiannya. Saya sendiri menghadirkan Pendawa Putra Petir yang kini sedang menyiapkan prototipe mobil listrik nasional.
Para rektor itu, di bawah koordinasi Mendikbud Muhammad Nuh dan Menristek Gusti Muhammad Hatta, secara mengejutkan menyajikan hasil kajian akademik yang sangat lengkap dan mendalam. Padahal Presiden SBY hanya memberi waktu 2,5 bulan kepada mereka.
Presiden memang pernah mengundang para rektor itu ke Istana Jakarta. Untuk meminta pandangan mereka mengenai realistis tidaknya mobil listrik nasional.Presiden lantas minta kajian akademiknya. Waktu 2,5 bulan ternyata cukup untuk mereka.
Karena itu saat Presiden menagih yang ditagih begitu siapnya. Rupanya Presiden dan para rektor samasama semangatnya. Ini seperti tumbu ketemu tutupnya, Anang ketemu Ashantinya!
Ini juga menunjukkan bahwa dunia perguruan tinggi sebenarÂnya sudah lama memendam keÂsumat: melahirkan sesuatu yang bersejarah oleh kemampuan inÂteÂÂlektual bangsa sendiri. Bahwa konsep itu bisa lahir begitu cepat pada dasarnya juga karena dunia perguruan tinggi sudah lama meÂlakukan kajian, riset, dan ujicoba yang mendalam.
Para mahasiswa pun sudah bisa membuatnya. Saya sudah menÂcoba yang buatan mahasiswa ITS, ITB, atau pun mahasiswa UGM. Sudah bertahun-tahun mereka memendam harapan: kapan hasil riset itu tidak sekadar berhenti sampai di peti. Mereka sudah lama mimpi kapan hasil kajian itu menjadi karya nyata untuk bangsa. Bahkan mereka perÂnah curiga jangan-jangan keÂpentingan bisnis besarlah yang membunuh bayi mereka sejak masih di dalam kandungannya.
Maka begitu Presiden SBY memÂberikan sinyal yang kuat untuk lahirnya mobil listrik naÂsional ini, para rektor menyala seperti bensin menyambar bara yang menganga. “Kami sampai kurang tidur dan tidak sempat mengajar,†ujar Doktor elektro UGM yang terlibat penyiapan konsep itu.
Presiden SBY kelihatan amat puas mendengarkan presentasi Mendikbud dan Rektor UGM yang mewakili para rektor semua. Presiden juga memberikan koÂmitmen yang kuat untuk kelanÂjutan proyek ini. Para rektor berÂtepuk tangan berkali-kali.
Kesimpulan paparan akadeÂmik para rektor tersebut adalah: kelaÂhiran mobil lisrik adalah suatu keharusan. Kata “kehaÂrusan†itu ditulis dengan huruf besar semua. Itu menandakan keniscayaannya. Sedang saat yang tepat untuk meÂlahirkannya, kata kesimpulan itu: sekarang juga. Kata “sekarang†itu juga ditulis dengan huruf besar menandakan jangan sampai kita mengabaikan momentum.
Terlambat merealisasikannya, kata para rektor, hanya akan memÂbuat Indonesia mengulangi sejarah buruk kita di masa lalu: jadi pasar empuk semata. Kita akan gigit jari untuk kesekian kalinya.
“Secara teknologi, SDM, pasar, dan industrial kita mampu meÂlakukannya,†ujar Prof Dr Agus Darmadi, guru besar elektro UGM yang mewakili para rektor menyampaikan presentasi.
Paparan para rektor itu tecerÂmin juga dalam paparan tim PenÂdawa Putra Petir yang dihadirÂkan setelah itu. Yakni lima putra bangsa yang siap merealisasiÂkanÂnya. Lima orang ini meruÂpakan hasil seleksi dari lebih seribu orang yang mendukung lahirnya mobil listrik nasional. Lima orang inilah yang memeÂnuhi tiga syarat utama sekaligus: kemamÂpuan akademik, pengaÂlaman inÂdustri, dan passion untuk meÂwujudkannya.
Dasep Ahmadi, engineer luluÂsan ITB dan pendidikan luar negeri sudah lama berada di inÂdustri mobil. Kini Dasep mampu memproduksi mesin presisi dan berhasil mengekspornya. Kalau sudah bisa membuat mesin preÂsisi, semua mesin menjadi muÂdah baginya. Dasep kini lagi meÂnyeÂlesaikan tiga prototipe city elecÂtric car. Sudah hampir jadi. SeÂbulan lagi sudah bisa diÂkenÂdarai. Bentuknya yang suÂdah kelihatan, mirip Avanza. Sudah dua kali saya mengunÂjungi workÂshopnya.
Danet Suryatama, engineer lulusan ITS dengan gelar doktor dari Michigan USA, sudah lebih 10 tahun menjadi engineer di pabrik mobil AS. Saat pertemuan dengan Presiden SBY itu, Danet baru tiba dari USA. Masih belum mandi. Hampir saja tidak sempat hadir. Pesawatnya dari AS terÂlambat berangkat.
Saya sudah sekali mengunÂjungi workshop di Jogja yang akan mengerjakan mobil listrikÂnya. Danet menyiapkan protoÂtipe mobil listrik kelas mewah. “Agar jangan ada anggapan mobil listrik itu ecek-ecek,†kataÂÂnya. Desain mobilnya, yang hanya boleh diÂtayangkan amat sekilas, membuat penggemar Ferari bisa iri. Dua bulan lagi mobil ini jadi.
Danet sudah siap pulang ke tanah air untuk mengabdikan diri bagi bangsa sendiri. Sudah 20 taÂhun dia berkarya untuk Amerika. Kini, ibunya yang kelahiran PaciÂtan, seperti memanggilnya pulang.
Ravi Desai, lahir dan lulusan Gujarat. Ravi ahli dalam energi dan menekuni konversi energi. Ravi kini menyelesaikan konÂversi mobil lama yang ingin diÂubah menjadi mobil listrik. Saat meninjau proyeknya di Serpong minggu lalu, saya lihat ada dua sedan Timor di situ. Timor itulah yang dicopot mesinnya diganti motor listrik. Dua bulan lagi TiÂmor baru itu sudah bisa meluncur di jalan raya.
Mario Rivaldi, spesialis sepeda motor listrik. Lulusan Inggris dan Jerman yang pernah kuliah di ITB ini bukan baru membuat, tapi sudah membuat. Bahkan sepeda motornya sudah lolos uji sertifiÂkasi dan sudah dipatenkan. Mario tidak mau karyanya ini disamaÂkan dengan motor listrik dari Tiongkok yang kini beredar di Indonesia. Kelas motornya yang akan diberi merek Abyor itu jauh di atas yang ada.
Tentu karya keempat engineer itu tidak akan bisa disebut mobil listrik nasional kalau komponen buatan dalam negerinya tidak meÂmadai. Itulah sebabnya diÂperluÂÂkan si bungsu dari PenÂdawa: umurnya masih sangat muda (termuda di antara sang Pendawa) tapi namanya masih harus diÂrahasiakan. Waktu diÂminta oleh Bapak Presiden SBY untuk bicara, dia juga hanya bicara seperlunya.
Anak Padang ini ahli membuat komponen motor. Dia sudah punya belasan paten motor di luar negeri. Dia juga bersedia pulang. Untuk menjadi pelopor industri komponen motor di dalam negeri. Sudah 14 tahun dia di negara maju, kini saatnya dia kembali. Semangatnya untuk mengabdi pada bangsa sendiri ternyata begitu tinggi.
“Dalam satu mobil,†kata sang Sadewa ini, “diperlukan 150 motorâ€. Kalau satu juta mobil diÂperlukan 150 juta motor. SemuaÂnya impor. Satu pabrik gula besar bisa memerlukan 1.000 motor. Apa saja, memerlukan motor. Tapi kita belum bisa memÂÂbuatnya.
Sadewa dari Sumbar inilah yang akan mengubahnya. Kini dia sedang membentuk tim yang kuat. Dia akan keliling perguruan tinggi mencari tenaga yang handal untuk menjadi timnya. Dalam tiga bulan ke depan protoÂtipe motornya akan lahir di BanÂdung. Tentu Sadewa akan memÂprioritaskan motor untuk mobil listrik nasional lebih dulu.
Melihat tekad putra-putra bangsa itu Presiden SBY tidak bisa menyembunyikan keterhaÂruanÂnya. Wajah, mimik dan kata-kata Presiden membuat suasana pertemuan sore itu campur aduk: haru dan bangga!
Presiden memberikan duÂkuÂngan penuh pada lahirnya babak baru ini. Misalnya dukuÂngan regulasi dan insentif. Menperin MS Hidayat juga sangat berseÂmangat. Ia komit memberi dukuÂngan yang diperlukan.
Lantas, kata penutup dari PreÂsiden SBY dalam pertemuan itu seperti sapu jagad: dalam tiga bulan ke depan konsep regulasi yang diperlukan berikut insentif yang diinginkan sudah harus berhasil dirumuskan. Dan PreÂsiden SBY akan menagihnya. Tepuk tangan pun menggemuruh: plok-plok-plok!
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: