Jangan Paksa Tiba-tiba Ma’rifat

Oleh: Dahlan Iskan

Selasa, 17 Januari 2012, 06:27 WIB
Jangan Paksa Tiba-tiba Ma’rifat
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan layak memberi peng­hargaan kepada Walikota Solo Jo­kowi, setidaknya untuk satu hal: mem­­promosikan keberhasilan pro­gram kementeriannya. Khususnya da­­lam pengembangan mobil Esemka.

Mendikbud Mohamad Nuh-lah yang memprogramkan 23 sekolah me­nengah kejuruan (SMK) itu me­rakit mobil Esemka. Tiga di­an­taranya SMK swasta. Satu dari tiga itu adalah SMK Muhammadiyah Bo­robudur, Magelang, yang dua tahun la­lu ikut jadi korban meletusnya gu­nung Merapi.

Siswa SMK Muhammadiyah ini, se­bagaimana SMK Solo yang sudah di­pro­mosikan Jokowi, bahkan sudah melewati beberapa tahap kesulitan pera­kitan mobil. Mula-mula merakit satu mobil. Lalu dibongkar lagi untuk di­rakit lagi. Dibongkar lagi dan dirakit lagi. Tahap berikutnya SMK tersebut, bersama-sama dengan 23 SMK lainnya, diberi wewenang (dan uang) untuk membeli suku cadang yang bisa dirangkai menjadi mobil. Boleh impor, boleh dari dalam negeri. Uangnya disediakan.

Mereka memilih mengimpor dari Tiongkok. Karena tidak mungkin setiap SMK mengimpor sendiri-sendiri, 23 SMK tersebut bersepakat me­nunjuk sebuah perusahaan impor­ter. Dipilihlah sparepart mesin ber­basis teknologi merk Wuling dari Tiongkok.

Sparepart impor itu dibagikan secara merata ke 23 SMK. Inilah yang kemudian dipakai belajar merakit dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Hasilnya sangat baik, tapi diblok mesinnya belum ada tulisan Esemka.

Tahap berikutnya lagi, blok mesin tidak didatangkan dari Tiongkok, tapi di­buat oleh industri kecil baja Ceper, Klat­en. Cetakan blok mesin yang masih ka­sar ini dikirim ke Jakarta untuk di­bubut di pabrik mobil. Juga diberi merk Esemka. Dari Jakarta blok mesin ini diki­rim ke 23 SMK untuk dirakit oleh pa­ra siswa. Tahap inilah yang berhasil di­rakit menjadi mobil Jokowi. Karena itu baik yang di Solo, di SMK Mu­ham­madiyah Borobudur maupun di be­berapa SMK lainnya bentuk dan mo­delnya sama.

Fisiknya gagah dan finishingnya ha­lus. Gas, kopling, rem, power streering dan window powernya tidak terasa beda dengan mobil produksi pabrik. Saya mencoba mobil Esemka buatan SMK Muhammadiyah ini sampai kecepatan 80 dan membawanya ngepot di la­pangan rumput berlumpur. Tidak ada ma­salah. Rasanya mobil Esemka buatan SMK-SMK negeri lainnya juga sa­ma baiknya. Memang ada supervisi dari tim Men­dikbud yang diberikan da­lam standar yang sama untuk semua SMK.

Kini Mendikbud memberi order yang lebih besar lagi. Kepada SMK Muham­ma­diyah Borobudur diberikan order un­tuk mempraktekkan pekerjaan yang le­bih berat: membuat tiga buah bus “2 in 1”. Bus ini bisa untuk angkutan pe­num­pang/barang dan sekaligus bisa diubah se­bagai panggung kesenian. Tiga buah bus tersebut sekarang lagi dikerjakan di bengkel SMK itu. Bagian dindingnya bisa dibuka. Diberi engsel di bagian ba­wah­nya. Ketika dinding bus itu dibuka ja­dilah dinding tersebut panggung ke­senian. Tiga buah bus “2 in 1” itu akan diberikan kepada SMK khusus bidang ke­senian. Seniman SMK bisa menuju tem­pat pertunjukan dengan naik bus de­ngan membawa serta peralatan ke­se­nian. Tiba di lokasi dinding busnya dibuka dan dihampar sebagai panggung.

Kalau order Mendikbud ini selesai, SKM-SMK itu, seperti SMK Mu­ham­madiyah Borobudur ini akan memiliki catatan yang panjang: berhasil merakit sedan, SUV, ambulan, pick-up dan bus “2 in 1”.

Siapa pun akan bangga melihat per­kembangan itu. Berita mengenai pelajar ki­ta tidak lagi melulu soal perkelahian. Ki­ni mengenai prestasi mereka. Men­dik­nas sendiri, mungkin karena meng­anggap perannya itu sebagai kewajiban yang sudah seharusnya rupanya tidak me­lihat bahwa keberhasilannya itu se­buah success story. Jokowilah yang mem­promosikan keberhasilan Ke­mendikbud itu!

Hasil promosi ini sangat nyata. Harga diri sekolah SMK naik drastis. Sis­wanya begitu bangga. Kini terbukti tidak harus semua lulusan SMP masuk SMA. Saya yakin anak-anak SMK ter­sebut akan bernasib lebih baik. Begitu lu­lus kelak mereka lebih mudah mecari pekerjaan. Baik di industri per­beng­kelan maupun di industri otomotif. Bah­kan siapa tahu bisa mandiri sebagai pe­ngusaha pemula di bidangnya.

Setelah memahami apa yang sebe­narnya terjadi di SMK-SMK itu, sore­nya saya meninjau PT INKA di Ma­diun. BUMN ini sudah berhasil mem­produksi mobil 650 cc. Saya mencoba mengemudikannya sejauh satu jam per­jalanan dari Madiun ke Takeran lewat Ke­bonsari. Saya ingin tahu apakah PT INKA bisa didorong untuk menjadi industri mobil nasional. Agar keinginan yang luas di media mengenai mobnas ini bisa segera mendapatkan muara.

Malam harinya, rapat intensif dila­kukan. Temanya sama: apakah PT INKA sudah siap untuk menjadi in­dus­tri mobil nasional? Pasti bisa. Terutama ka­lau yang dimaksud adalah mem­pro­duksinya. Tapi BUMN ini pernah ber­tahun-tahun dalam kondisi la-yahya-wa­la-yamut. Saking beratnya pernah di­putuskan ditutup saja. Krisis ekonomi dan politik 1998 membuat PT INKA kehilangan kehidupannya. PT INKA ibarat orang yang sudah dikira mati dan sudah dimasukkan ke kamar mayat.

Ternyata dia belum mati benar. Mekanisme internal di tubuhnya (bukan karena ditolong dokter) memungkinkan tiba-tiba denyut nadinya berdetak pe­lan. Petugas kamar mayat tahunya be­lakangan. Lalu dikirim ke ICCU. Ok­sigin politik dan ekonomi yang mem­baik di luar (lagi-lagi bukan karena per­tolongan dokter) membuat jantungnya mulai berdetak.

Boleh dikata baru tiga tahun terakhir PT INKA keluar dari rumah sakit. Ja­lannya memang sudah tidak sem­po­yongan tapi belum bisa kalau disuruh lari. Makannya memang sudah tiga kali se­hari namun otot-ototnya belum terbentuk. Ia sudah mulai bisa ber­olah­raga, namun belum cukup kuat untuk ikut lomba maraton. Apalagi maraton in­dustri mobil yang begitu terjal ja­lannya dan begitu jauh jaraknya.

Manajemen PT INKA masih harus ber­konsentrasi di industri kereta api. Di si­tulah core business-nya. Di situlah ma­komnya. Dia harus fokus dengan se­benar-benarnya fokus. Istilah saya dia ha­rus bertauhid. Inti tauhid adalah meng-esa-kan. Dan inti meng-esa-kan ada­lah fokus. Tidak boleh gampang ter­goda. Di dalam bisnis dan di dalam ma­najemen, godaan itu luar biasa ba­nyaknya. Sebanyak godaan terhadap ke­imanan. Kalau sebuah manajemen ti­dak fokus maka dia bisa jatuh menjadi musyrik. Musyrik manajemen. PT INKA tidak boleh diganggu oleh godaan-godaan sesaat. Dia masih di tahap syari’at. Jangan dipaksa tiba-tiba ma’rifat! Bisa gila.

Tapi PT INKA akan tetap mem­pro­duksi mobil. Syaratnya: sepanjang ada pesanan. Itu pun kalau jelas pem­ba­yarannya. Yang penting, PT INKA ter­bukti bisa memproduksi mobil. Dia su­dah banyak latihan membuat mobil ke­tika tidak ada pekerjaan membuat ke­reta api dulu. Kini, PT INKA lagi sibuk di core business-nya. Lagi banyak order membuat kereta api. Juga lagi semangat mengembangkannya.

Walhasil PT INKA belum akan men­jadi industri mobil dalam pengertian sam­pai mengurus sistem distribusi, pema­saran dan lembaga pem­biayaan­nya. Ini pekerjaan yang me­merlukan investasi triliunan rupiah yang berhasil tidaknya tidak hanya diten­tukan oleh kemampuan pro­duk­sinya. PT INKA masih harus menanam ke­percayaan dengan cara mampu menyelesaikan pembuatan 40 kereta api tepat waktu. Juga harus menanam kepercayaan bah­wa kualitasnya tinggi. PT INKA juga sedang konsentrasi untuk membuat puluhan lokomotif setelah dipercaya oleh General Electric dari Amerika.

Untungnya mungkin tipis, tapi reputasi yang didapat bisa membawa keuntungan besar di belakang hari. Kepercayaan ini harus dijaga. Apalagi peru­sahaan sekelas GE yang mem­per­cayainya. PT INKA yang kini sudah mu­lai laba dan bisa menggaji karya­wannya, jangan digoda-goda dulu un­tuk proyek-proyek yang bisa menjeru­muskannya kembali ke jurang. Saya melihat PT INKA sudah menemukan jalan hidupnya. Juga masa depannya. Di samping dipercaya oleh GE Ame­rika, juga sudah mulai mengerjakan pesanan dari Singapura dan Malaysia.

Memang PT KAI yang menjadi konsumen terbesarnya kini masih banyak mengimpor kereta bekas dari Jepang, tapi itu hanya sementara. Untuk memperbaiki kinerja keuangan PT KAI sendiri. Dengan tarif kereta saat ini PT KAI memang baru bisa membeli kereta bekas yang amat murah. Tapi tiga-empat tahun lagi sudah akan berubah. Pembenahan di PT KAI terus dilakukan oleh manajemennya. Hasilnya sudah kelihatan nyata dua tahun terakhir ini. Kalau keuangannya sudah lebih baik, pasti PT KAI akan meninggalkan era beli bekas. Di saat itulah nanti PT INKA bisa panen raya. Apalagi kalau program ekspornya terus berkembang.

Memang masih banyak masalah di antara keduanya. Tapi memecahkannya tidak akan sesulit merukunkan Israel dan Palestina. Masalah PT INKA dan PT KAI bisa di selesaikan di atas kereta api. Dalam perjalanan kereta api dari Madiun ke Jombang, berbagai masalah mendasar dibicarakan bersama. “Rapat berjalan di atas rel” itu menemukan kese­pakatan-kesepatan yang memberi harapan.

Ketegangan yang diselingi gelak tawa membawa kesegaran suasana. Salah pengertian di antara PT KAI dan PT INKA bisa dihilangkan. Lalu salaman. Sinergi bisa disepakati. Salaman lagi. Direksi PT KAI dan Direksi PT INKA bersalaman berkali-kali. Pertanda banyak kesepahaman yang terjadi.

Banyaknya penumpang yang dari jauh melihat serangkaian salaman itu mungkin ikut terheran-heran. Saya sendiri bisa turun di stasiun Jombang dengan perasaan lega. Lalu bisa nyekar ke makam Gus Dur dengan hati yang lebih lapang. Kalau begitu, siapa yang akan menggarap mobil nasional? Jangan khawatir. Saat ini sudah ada putra bangsa, lulusan ITB tahun 1984, yang sedang secara serius menyiap­kannya. Mobil ciptaannya sudah diuji keliling kamus almamaternya. Ia memang pengusaha permesinan yang handal. Sudah banyak melakukan ekspor mesin. Ia putra Indonesia dari suku Sunda yang sangat nasionalistik. Dia seorang profesional yang tangguh. Dia akan membangun pabrik yang serius dengan production line yang serius pula. Dia akan memenuhi segala persyaratan sebuah industri mobil yang sempurna.

Tugas kita adalah membantunya. Yak­ni membeli produknya atau seti­dak­nya mendo’akannya. Tidak lama lagi. [***]

Penulis adalah Menteri Negara BUMN

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA