Mengubah Pemikiran Gajah Di Pelupuk Mata

Oleh Dahlan Iskan

Senin, 09 Januari 2012, 11:11 WIB
Mengubah Pemikiran Gajah Di Pelupuk Mata
dahlan iskan
IDE segar bisa datang dari mana saja. Salah satunya disampaikan oleh Di­rektur Utama PT Pupuk Sriwijaya Hol­ding, Arifin Tasrif. Saya sangat ter­tarik dengan ide baru yang bisa se­dikit mengatasi kesulitan gas untuk ba­han baku pupuk. Ketika ide teman-te­man Pupuk Sriwijaya ini saya sam­paikan dalam pertemuan khusus dengan Presiden SBY, beliau juga sangat memuji.

Ide ini juga menjadi bukti bahwa ber­pikir kreatif lebih penting dari pa­da terus-menerus mengeluh. Selama ini ada gejala terlalu banyak energi pa­ra pimpinan BUMN untuk me­nge­luh, ngomel, ikut menghujat meng­hu­jat. Termasuk soal kekurangan gas un­tuk bahan baku pabrik pupuk ini. Sam­pai-sampai saya pernah sangat kasihan pada industri pupuk yang harus menutup pabriknya karena ke­kurangan gas. Sampai-sampai, se­waktu saya menjabat Dirut PLN, saya menegaskan: biarlah gas-gas di Sumsel lebih diutamakan untuk pupuk. Padahal saat itu PLN sendiri sa­ngat membutuhkan gas.

Tentu banyak teman PLN yang ku­rang setuju. Tapi saya punya logika sendiri. PLN masih bisa mencari sumber listrik dari bahan baku lain. Bah­kan untuk Sumsel bahan baku itu me­limpah: batu-bara dan air. Sedang pab­rik pupuk Sriwijaya harus tutup ka­lau tidak mendapat gas. Memang PLN tetap memerlukan gas, tapi se­benarnya tidak harus sebanyak ka­pasitas pembangkitnya. Gas untuk PLN harus hanya untuk lima atau tu­juh jam sehari. Yakni untuk jam-jam 16.00 sampai jam 22.00.

Memang harus ada pemikiran yang radikal. PLN perlu membuat tang­ki CNG (Compressed Natural Gas). Agar gas yang mengalir 24 jam itu jangan dipakai 24 jam, tapi di­tampung dulu dalam satu tangki. Gas itu harus dimampatkan agar tang­ki­nya tidak terlalu besar. Baru pa­da jam yang di­perlukan gas ter­sebut dipakai.

Katakanlah di satu pulau atau di satu daerah atau di satu sistem, ke­bu­tuhan te­tap (dasar) listrik se­panjang hari se­besar 1000 MW. Baru pada jam-jam ter­tentu ke­butuhan itu meningkat menjadi 1.200 MW. Se­baiknya yang 1000 MW ha­rus diisi dengan pembangkit ber­ten­aga ba­tu­bara. Ditambah dengan geo­ther­mal dan air. Ini sesuai dengan si­fat ba­tubara, geothermal dan air yang pro­duksinya konstan. Baru pada jam-jam tertentu itu menggunakan gas. Dengan de­mikian dalam keadaan negara yang la­gi kekurangan gas seperti sekarang, ma­najemen gas secara nasional bisa di­lakukan dengan tepat.

Bisa jadi teman-teman PLN tidak se­tuju dengan ide seperti ini. Itu wajar ka­­rena orang PLN harus membela pe­ru­sa­haannya lebih dulu. Tapi kalau kita su­dah berbicara kepentingan na­sional ti­dak bisa lagi masing-masing sek­tor ber­pikir egois. Bisa jadi efisien di satu tem­pat membuat pemborosan yang luar biasa di tempat lain. Bisa jadi ke­puasan di satu tempat menimbulkan ke­tidak pua­san di banyak tempat. Di sini harus ada manajemen nasional di bidang gas. Ego sektor yang selama ini men­jadi sa­lah satu kelemahan kita ber­sama harus diatasi.

Tentu PLN tidak seperti itu. PLN su­dah melahirkan ide CNG sejak 2 tahun la­lu. Kini proyek CNG PLN yang per­tama sedang dalam pengerjaan. Se­moga segera dibangun proyek serupa, be­sar-besaran, di semua daerah. Secara nasional manajemen gas kita yang lagi sulit akan bisa lebih baik.

Demikian juga industri. Masing-ma­sing industri harus berpikir untuk me­lakukan manajemen gas. Industri yang hanya menggunakan gas 12 jam sehari, ha­rus melakukan manajemen gas yang ber­beda dengan industri yang meng­gu­nakan gas 24 jam. Industri yang lebur di hari Sabtu dan Minggu harus di­perlakukan tidak sama dengan industri yang bekerja 24 jam dalam 7 hari se­minggu. Karena itu pengadaan re­ceiving terminal gas yang sebentar lagi se­lesai sangat cocok untuk melengkapi sis­tem manajemen gas yang tepat.

Ide baru perubahan manajemen gas se­perti itulah yang sedang dirancang te­man-teman Pupuk Sriwijaya sekarang ini. Dulunya Pupuk Sriwijaya itu seperti “melihat gajah di pelupuk mata”. Mereka mengeluh luar biasa akibat kekurangan gas sebagai bahan baku pupuk. Tapi mereka lupa bahwa mereka sendiri ternyata melakukan pemborosan gas yang tidak perlu. Mereka telah meng­gunakan gas untuk mem­bang­kitkan listrik untuk kepentingan pabriknya. Inilah yang akan diubah oleh teman-teman Pupuk Sriwijaya. Mereka akan segera membangun pembangkit listrik tenaga batubara. Kalau PLTU ini sudah jadi, gas sebesar 40 juta mscfd bisa dihemat. Bisa dialihkan untuk ba­han baku. “Bisa untuk menghi­dup­kan satu pabrik tersendiri dengan ka­pasitas 1 juta ton/tahun!,” ujar Arifin Tasrif.

Bahkan mungkin tidak perlu me­nunggu PLTU-nya jadi. Sekarang ini sistem kelistrikan di Sumsel sudah tidak krisis lagi. Pembangkit-pembangkit baru sudah banyak yang mulai meng­hasilkan listrik. Termasuk geothermal Ulubelu sebentar lagi selesai dibangun. Pabrik-pabrik pupuk yang lain akan mengikuti logika tersebut. Maka energi besar yang selama ini dipergunakan untuk mengeluh, terbukti bisa diubah menjadi energi yang sangat positif.

Betapa pentingnya menggunakan kapasitas berpikir untuk sesuatu yang positif dan kreatif. Bahkan PLN atau pa­brik pupuk bisa melakukan pem­bicaraan swap energy dengan kilang LNG. Baik di Tangguh maupun di Bon­tang. Gas yang dipergunakan untuk mem­bangkitkan listrik (untuk men­cairkan gas) di dua terminal LNG ter­sebut sangat besar. Bisa saja PLN atau siapa pun membangunkan PLTU ba­tubara di dua lokasi tersebut. Lalu gas yang dibakar di situ diminta untuk ke­pentingan yang lebih strategis. Di Bontang swap gas itu bisa untuk pabrik Pupuk Kaltim, sedang di Tangguh bisa untuk listrik Papua.

Ide kreatif juga datang dari PT Pelni. Direktur Utama Pelni, Jussabela, me­nyampaikan kepada saya tentang ide baru “Kapal 3 in 1”. Ide ini bermula da­ri menurunnya jumlah penumpang ka­pal. Sejak maraknya penerbangan mu­rah 10 tahunan yang lalu, pe­num­pang kapal Pelni menurun drastis. Tinggal 50%nya. Tentu Pelni menga­lami kerugian yang sangat besar.

Padahal Pelni tidak boleh meng­hen­tikan operasi. Pelni harus tetap me­ngem­ban tugas merangkai pulau-pulau Nu­santara. Kalau Pelni tidak ber­ope­rasi, ti­dak ada pilihan bagi masyarakat go­longan bawah yang ingin bepergian. Sekarang saja, kalau ada kapal Pelni yang dok (diperbaiki), harga-harga barang di suatu daerah terpencil lang­sung naik drastis.

Di samping itu penumpang Pelni adalah juga para pedagang kecil yang hanya dengan menggunakan Pelni dia bisa membawa barang dalam jumlah yang banyak dengan biaya yang murah. Bahkan untuk kilogram tertentu tidak perlu membayar. Di saat pesawat se­makin ketat dalam mengontrol berat barang bawaan Pelni menjadi tumpuan bagi pedagang kecil antar pulau. Memang kadang agak keterlaluan. Barang yang dibawa bukan lagi ratusan kilo, tapi mendekati ton. Kalau ditegur bisa memecah kaca terminal. Inilah yang membuat Pelni kian sulit.

Melihat gejala baru itu, teman-teman di Pelni bertekad mengubah semua kapalnya menjadi “Kapal 3in1”. Agar tidak hanya bisa mengangkut orang. Ka­pal Pelni juga harus bisa meng­angkut barang. Dan ternak. Artinya sebagian ruang penumpang yang kini separo kosong itu diubah untuk bisa dimasuki kontainer. Setidaknya kon­tainer -20. Bahkan mungkin kontainer yang lebih kecil. Direksi Pelni sedang mendesain kontainer mini itu. Seka­ligus untuk menambah fleksibilitas. Juga agar biaya modifikasinya lebih mu­rah. Cukup mengadakan krane yang ukurannya kecil yang lebih murah.

Untuk itu Pelni akan bekerjasama dengan fakultas tehnik perkapalan Institut Teknologi Surabaya (ITS). ITS sudah punya pengalaman meredesain kapal Pelni untuk kepentingan serupa. Beberapa hari lalu, sebelum matahari terbit, saya melihat kapal yang sudah dimodifikasi itu di Tanjungpriok. Sekalian melihat terminal baru pe­numpang Pelni di situ. Terminal baru yang dibangun Pelindo II ini berselera tinggi. Tidak kalah dengan bandara se­kelas Juanda Surabaya. Desainnya fu­tu­ristic. Ruang tunggunya menge­jut­kan. Apalagi kalau pohon-pohon yang saya minta ditanam banyak-banyak di si­tu sudah besar nanti. Penumpang ka­pal Pelni tidak akan merasa rendah diri dibanding penumpang pesawat terbang.

Saya juga sudah menyampaikan ide kreatif seperti ini kepada Presiden SBY. Beliau sangat menghargai bahkan ber­harap bisa ikut mengatasi kesulitan sistem logistik nasional. Terutama untuk daerah-daerah yang belum berkembang.

Jawa, misalnya, memerlukan daging sapi yang luar biasa besar. Tapi kiriman sapi dari Indonesia Timur sangat mahal. Ini karena tidak ada kapal khusus angkutan sapi. Kapal khusus sapi harus besar. Padahal sapi yang akan diangkut meskipun banyak tapi tersebar di daerah-daerah kecil. Tidak mungkin kapal khusus bisa melayaninya.

Dengan kapal Pelni “3in1” maka lima atau enam ekor sapi dari satu daerah sudah bisa diangkut ke Jawa de­ngan ongkos yang murah. Presiden ber­harap ide kreatif ini bisa mendorong ma­syarakat di Indonesia timur lebih se­mangat menternakkan sapi. Bisa menjual sapi dengan mudah dengan har­ga yang baik.

Tentu penumpang Pelni tidak perlu merasa “kok disatukan dengan sapi”. Bukankah penumpang pesawat juga tidak merasa disatukan dengan jenazah ketika pesawat itu sedang mengangkut jenazah? Tentu sapi-sapi itu tidak akan dimasukkan peti mati, tapi akan dima­sukkan dalam container. Yakni contai­ner khusus yang kini lagi dipikirkan de­sainnya. Satu sapi satu container. De­ngan demikian sapi di pelabuhan sudah di­kemas dalam container. Tidak akan ada pemandangan sapi gila yang me­ngamuk karena tidak mau digiring ke kapal.

Ide ini sekaligus untuk mengatasi ketidakseimbangan angkutan barang antar wilayah Indonesia. Kapal-kapal Pelni yang menuju Indonesia Timur itu selalu penuh barang kalau mening­galkan Jakarta atau Surabaya. Tapi ke­tika kembali ke Jawa tidak banyak ba­rang yang diangkut. Sayang sekali ka­lau kapal itu kosong. Dengan angkutan barang dan ternak ini kapal Pelni yang kem­bali ke Jawa bisa penuh muatan.

Dengan demikian pendapatan Pelni bisa lebih baik. “Bisa naik 300 persen,” ujar Jussabela. Kreatifitas seperti itu akan terus didorong di semua BUMN. Agar bisa menggantikan sikap hanya bisa mengeluh atau cengeng. [***]

Penulis adalah Menteri Negara BUMN

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA