Ide ini juga menjadi bukti bahwa berÂpikir kreatif lebih penting dari paÂda terus-menerus mengeluh. Selama ini ada gejala terlalu banyak energi paÂra pimpinan BUMN untuk meÂngeÂluh, ngomel, ikut menghujat mengÂhuÂjat. Termasuk soal kekurangan gas unÂtuk bahan baku pabrik pupuk ini. SamÂpai-sampai saya pernah sangat kasihan pada industri pupuk yang harus menutup pabriknya karena keÂkurangan gas. Sampai-sampai, seÂwaktu saya menjabat Dirut PLN, saya menegaskan: biarlah gas-gas di Sumsel lebih diutamakan untuk pupuk. Padahal saat itu PLN sendiri saÂngat membutuhkan gas.
Tentu banyak teman PLN yang kuÂrang setuju. Tapi saya punya logika sendiri. PLN masih bisa mencari sumber listrik dari bahan baku lain. BahÂkan untuk Sumsel bahan baku itu meÂlimpah: batu-bara dan air. Sedang pabÂrik pupuk Sriwijaya harus tutup kaÂlau tidak mendapat gas. Memang PLN tetap memerlukan gas, tapi seÂbenarnya tidak harus sebanyak kaÂpasitas pembangkitnya. Gas untuk PLN harus hanya untuk lima atau tuÂjuh jam sehari. Yakni untuk jam-jam 16.00 sampai jam 22.00.
Memang harus ada pemikiran yang radikal. PLN perlu membuat tangÂki CNG (Compressed Natural Gas). Agar gas yang mengalir 24 jam itu jangan dipakai 24 jam, tapi diÂtampung dulu dalam satu tangki. Gas itu harus dimampatkan agar tangÂkiÂnya tidak terlalu besar. Baru paÂda jam yang diÂperlukan gas terÂsebut dipakai.
Katakanlah di satu pulau atau di satu daerah atau di satu sistem, keÂbuÂtuhan teÂtap (dasar) listrik seÂpanjang hari seÂbesar 1000 MW. Baru pada jam-jam terÂtentu keÂbutuhan itu meningkat menjadi 1.200 MW. SeÂbaiknya yang 1000 MW haÂrus diisi dengan pembangkit berÂtenÂaga baÂtuÂbara. Ditambah dengan geoÂtherÂmal dan air. Ini sesuai dengan siÂfat baÂtubara, geothermal dan air yang proÂduksinya konstan. Baru pada jam-jam tertentu itu menggunakan gas. Dengan deÂmikian dalam keadaan negara yang laÂgi kekurangan gas seperti sekarang, maÂnajemen gas secara nasional bisa diÂlakukan dengan tepat.
Bisa jadi teman-teman PLN tidak seÂtuju dengan ide seperti ini. Itu wajar kaÂÂrena orang PLN harus membela peÂruÂsaÂhaannya lebih dulu. Tapi kalau kita suÂdah berbicara kepentingan naÂsional tiÂdak bisa lagi masing-masing sekÂtor berÂpikir egois. Bisa jadi efisien di satu temÂpat membuat pemborosan yang luar biasa di tempat lain. Bisa jadi keÂpuasan di satu tempat menimbulkan keÂtidak puaÂsan di banyak tempat. Di sini harus ada manajemen nasional di bidang gas. Ego sektor yang selama ini menÂjadi saÂlah satu kelemahan kita berÂsama harus diatasi.
Tentu PLN tidak seperti itu. PLN suÂdah melahirkan ide CNG sejak 2 tahun laÂlu. Kini proyek CNG PLN yang perÂtama sedang dalam pengerjaan. SeÂmoga segera dibangun proyek serupa, beÂsar-besaran, di semua daerah. Secara nasional manajemen gas kita yang lagi sulit akan bisa lebih baik.
Demikian juga industri. Masing-maÂsing industri harus berpikir untuk meÂlakukan manajemen gas. Industri yang hanya menggunakan gas 12 jam sehari, haÂrus melakukan manajemen gas yang berÂbeda dengan industri yang mengÂguÂnakan gas 24 jam. Industri yang lebur di hari Sabtu dan Minggu harus diÂperlakukan tidak sama dengan industri yang bekerja 24 jam dalam 7 hari seÂminggu. Karena itu pengadaan reÂceiving terminal gas yang sebentar lagi seÂlesai sangat cocok untuk melengkapi sisÂtem manajemen gas yang tepat.
Ide baru perubahan manajemen gas seÂperti itulah yang sedang dirancang teÂman-teman Pupuk Sriwijaya sekarang ini. Dulunya Pupuk Sriwijaya itu seperti “melihat gajah di pelupuk mataâ€. Mereka mengeluh luar biasa akibat kekurangan gas sebagai bahan baku pupuk. Tapi mereka lupa bahwa mereka sendiri ternyata melakukan pemborosan gas yang tidak perlu. Mereka telah mengÂgunakan gas untuk memÂbangÂkitkan listrik untuk kepentingan pabriknya. Inilah yang akan diubah oleh teman-teman Pupuk Sriwijaya. Mereka akan segera membangun pembangkit listrik tenaga batubara. Kalau PLTU ini sudah jadi, gas sebesar 40 juta mscfd bisa dihemat. Bisa dialihkan untuk baÂhan baku. “Bisa untuk menghiÂdupÂkan satu pabrik tersendiri dengan kaÂpasitas 1 juta ton/tahun!,†ujar Arifin Tasrif.
Bahkan mungkin tidak perlu meÂnunggu PLTU-nya jadi. Sekarang ini sistem kelistrikan di Sumsel sudah tidak krisis lagi. Pembangkit-pembangkit baru sudah banyak yang mulai mengÂhasilkan listrik. Termasuk geothermal Ulubelu sebentar lagi selesai dibangun. Pabrik-pabrik pupuk yang lain akan mengikuti logika tersebut. Maka energi besar yang selama ini dipergunakan untuk mengeluh, terbukti bisa diubah menjadi energi yang sangat positif.
Betapa pentingnya menggunakan kapasitas berpikir untuk sesuatu yang positif dan kreatif. Bahkan PLN atau paÂbrik pupuk bisa melakukan pemÂbicaraan swap energy dengan kilang LNG. Baik di Tangguh maupun di BonÂtang. Gas yang dipergunakan untuk memÂbangkitkan listrik (untuk menÂcairkan gas) di dua terminal LNG terÂsebut sangat besar. Bisa saja PLN atau siapa pun membangunkan PLTU baÂtubara di dua lokasi tersebut. Lalu gas yang dibakar di situ diminta untuk keÂpentingan yang lebih strategis. Di Bontang swap gas itu bisa untuk pabrik Pupuk Kaltim, sedang di Tangguh bisa untuk listrik Papua.
Ide kreatif juga datang dari PT Pelni. Direktur Utama Pelni, Jussabela, meÂnyampaikan kepada saya tentang ide baru “Kapal 3 in 1â€. Ide ini bermula daÂri menurunnya jumlah penumpang kaÂpal. Sejak maraknya penerbangan muÂrah 10 tahunan yang lalu, peÂnumÂpang kapal Pelni menurun drastis. Tinggal 50%nya. Tentu Pelni mengaÂlami kerugian yang sangat besar.
Padahal Pelni tidak boleh mengÂhenÂtikan operasi. Pelni harus tetap meÂngemÂban tugas merangkai pulau-pulau NuÂsantara. Kalau Pelni tidak berÂopeÂrasi, tiÂdak ada pilihan bagi masyarakat goÂlongan bawah yang ingin bepergian. Sekarang saja, kalau ada kapal Pelni yang dok (diperbaiki), harga-harga barang di suatu daerah terpencil langÂsung naik drastis.
Di samping itu penumpang Pelni adalah juga para pedagang kecil yang hanya dengan menggunakan Pelni dia bisa membawa barang dalam jumlah yang banyak dengan biaya yang murah. Bahkan untuk kilogram tertentu tidak perlu membayar. Di saat pesawat seÂmakin ketat dalam mengontrol berat barang bawaan Pelni menjadi tumpuan bagi pedagang kecil antar pulau. Memang kadang agak keterlaluan. Barang yang dibawa bukan lagi ratusan kilo, tapi mendekati ton. Kalau ditegur bisa memecah kaca terminal. Inilah yang membuat Pelni kian sulit.
Melihat gejala baru itu, teman-teman di Pelni bertekad mengubah semua kapalnya menjadi “Kapal 3in1â€. Agar tidak hanya bisa mengangkut orang. KaÂpal Pelni juga harus bisa mengÂangkut barang. Dan ternak. Artinya sebagian ruang penumpang yang kini separo kosong itu diubah untuk bisa dimasuki kontainer. Setidaknya konÂtainer -20. Bahkan mungkin kontainer yang lebih kecil. Direksi Pelni sedang mendesain kontainer mini itu. SekaÂligus untuk menambah fleksibilitas. Juga agar biaya modifikasinya lebih muÂrah. Cukup mengadakan krane yang ukurannya kecil yang lebih murah.
Untuk itu Pelni akan bekerjasama dengan fakultas tehnik perkapalan Institut Teknologi Surabaya (ITS). ITS sudah punya pengalaman meredesain kapal Pelni untuk kepentingan serupa. Beberapa hari lalu, sebelum matahari terbit, saya melihat kapal yang sudah dimodifikasi itu di Tanjungpriok. Sekalian melihat terminal baru peÂnumpang Pelni di situ. Terminal baru yang dibangun Pelindo II ini berselera tinggi. Tidak kalah dengan bandara seÂkelas Juanda Surabaya. Desainnya fuÂtuÂristic. Ruang tunggunya mengeÂjutÂkan. Apalagi kalau pohon-pohon yang saya minta ditanam banyak-banyak di siÂtu sudah besar nanti. Penumpang kaÂpal Pelni tidak akan merasa rendah diri dibanding penumpang pesawat terbang.
Saya juga sudah menyampaikan ide kreatif seperti ini kepada Presiden SBY. Beliau sangat menghargai bahkan berÂharap bisa ikut mengatasi kesulitan sistem logistik nasional. Terutama untuk daerah-daerah yang belum berkembang.
Jawa, misalnya, memerlukan daging sapi yang luar biasa besar. Tapi kiriman sapi dari Indonesia Timur sangat mahal. Ini karena tidak ada kapal khusus angkutan sapi. Kapal khusus sapi harus besar. Padahal sapi yang akan diangkut meskipun banyak tapi tersebar di daerah-daerah kecil. Tidak mungkin kapal khusus bisa melayaninya.
Dengan kapal Pelni “3in1†maka lima atau enam ekor sapi dari satu daerah sudah bisa diangkut ke Jawa deÂngan ongkos yang murah. Presiden berÂharap ide kreatif ini bisa mendorong maÂsyarakat di Indonesia timur lebih seÂmangat menternakkan sapi. Bisa menjual sapi dengan mudah dengan harÂga yang baik.
Tentu penumpang Pelni tidak perlu merasa “kok disatukan dengan sapiâ€. Bukankah penumpang pesawat juga tidak merasa disatukan dengan jenazah ketika pesawat itu sedang mengangkut jenazah? Tentu sapi-sapi itu tidak akan dimasukkan peti mati, tapi akan dimaÂsukkan dalam container. Yakni contaiÂner khusus yang kini lagi dipikirkan deÂsainnya. Satu sapi satu container. DeÂngan demikian sapi di pelabuhan sudah diÂkemas dalam container. Tidak akan ada pemandangan sapi gila yang meÂngamuk karena tidak mau digiring ke kapal.
Ide ini sekaligus untuk mengatasi ketidakseimbangan angkutan barang antar wilayah Indonesia. Kapal-kapal Pelni yang menuju Indonesia Timur itu selalu penuh barang kalau meningÂgalkan Jakarta atau Surabaya. Tapi keÂtika kembali ke Jawa tidak banyak baÂrang yang diangkut. Sayang sekali kaÂlau kapal itu kosong. Dengan angkutan barang dan ternak ini kapal Pelni yang kemÂbali ke Jawa bisa penuh muatan.
Dengan demikian pendapatan Pelni bisa lebih baik. “Bisa naik 300 persen,†ujar Jussabela. Kreatifitas seperti itu akan terus didorong di semua BUMN. Agar bisa menggantikan sikap hanya bisa mengeluh atau cengeng. [***]
Penulis adalah Menteri Negara BUMN
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: