Melalui Jurubicara di Kementerian Luar Negeri, Mark Toner, pemerintah AS mengatakan bahwa sedikitnya ada sekitar 5 ribu rudal yang sudah ditemukan di beberapa wilayah di negara yang sedang mengalami transisi tersebut. Namun tidak ada kejelasan mengenai keaktifan rudal tersebut. Pemerintah AS juga memperkirakan masih banyak rudal yang belum ditemukan oleh pihaknya.
"Jumlah pastinya masih sulit ditentukan, yang jelas kami akan terus mendukung Pemerintah Libya dalam melakukan pelucutan senjata, meminimalisir mobilisasi dari para milisi. Kami juga mendukung upaya pencegahan milisi bergabung kembali," ungkap Jurubicara Kementerian Luar Negeri AS, Mark Toner, sebagaimana dilansir
AFP (Sabtu, 24/12)
Menurut Toner, sisa rudal ini dapat membahayakan penerbangan sipil yang akan melintasi udara Libya. Disisi lain, Toner membantah kabar yang menyebutkan bahwa aksi AS kali ini disebut-sebut sedang mencari celah untuk mengambil kembali beberapa senjata mereka yang hilang saat melakukan invasi.
"Kini kami dihadapkan pada tantangan untuk menghancurkan senjata tersebut dan kami disini untuk mencari bentuk metode penghancuran (senjata) yang tepat," lanjutnya.
Rudal yang ditemukan ini sebagian besar adalah rudal buatan Rusia. Salah satu jenis rudal tersebut adalah rudal Grinch SA-24 yang memiliki kemampuan dengan rudal Stinger milik AS. Rudal ini di desain untuk menyerang pesawat jet tempur dan memiliki jangkauan 11 ribu kaki.
[ysa]
BERITA TERKAIT: