Film dokumenter panjang karya sineas muda Indonesia, Shalahuddin Siregar, ini bersaing dengan 10 film finalis lain dari beberapa negara di wilayah Asia dan Afrika untuk kategori Film Dokumenter Asia Afrika.
"Penghargaan ini merupakan yang pertama kalinya diterima film dokumenter Indonesia ini mengiringi pemutaran perdananya (World Premiere) pada saat DIFF 2011," kata Sekretaris Pertama/Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Dubai, Adiguna Wijaya, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 16/12).
Menurut Adiguna, pemberian penghargaan dilakukan dalam acara penutupan kegiatan DIFF 2011 tanggal 14 Desember 2011 di hotel Jumeirah Zabeel Saray yang berlokasi di pulau buatan berbentuk pohon palem di Dubai. Tahun ini sebanyak 36 penghargaan dengan total hadiah dalam bentuk uang sebesar 600.000 dolar AS diberikan untuk kategori film pendek, dokumenter dan
features yang kesemuanya berdasarkan tiga kategori utama yaitu Muhr Emirati Awards, Muhr Arab Awards, dan Muhr Asia Africa Awards.
Sementara itu, para juri berasal dari kalangan kritikus film, pelaku industri perfilman maupun sineas terkemuka di kawasan maupun dunia internasional, termasuk pula lembaga The International Federation of Film Critic’s (FIPRESCI).
Produksi film
The Land Beneath the Fog ini mendapat dukungan dari Goethe-Institut Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Ford Foundation dan Blue Post Asia. Proyek film ini mulai terealisasikan pada tahun 2009 melalui program kerja sama Goethe-Institut Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta, yaitu Documentary Cinema Capacity Building Programme: Indonesia-Ten Years After Reformasi.
Sebelumnya, pada tahun yang sama pra-proyek film ini juga turut terpilih untuk dikembangkan lebih lanjut melalui program Doc Station 2009 Berlinale Talent Campus-Berlin International Film Festival bersama 11 proyek film lainnya dari 11 negara yang lolos seleksi dari 3.800 pelamar yang berasal dari 128 negara.
Film ini menggambarkan kehidupan masyarakat petani di desa Genikan, lereng gunung Merbabu, yang mendasarkan mata pencarian bertani mereka dengan kalendar tradisional Jawa untuk menandai pergantian musim bercocok tanam. Film menyoroti mengenai keseharian kehidupan mereka sebagai petani yang terpengaruh oleh perubahan iklim.
Film yang berdurasi sekitar 105 menit ini mengisahkan tokoh Muryati (30 tahun) dan Sudardi (32 tahun) yang berusaha memahami terjadinya perubahan iklim yang tidak menentu yang membuat mereka harus gagal panen lahan pertanian mereka, disamping juga menghadapi polemik rendahnya harga jual hasil pertanian mereka di pasaran.
Sementara itu, tokoh Arifin (12 tahun), dihadapkan pada permasalahan sistem sekolah negeri yang kompleks baginya dan kekhawatiran akan masa depan yang dihadapinya. Secara umum, film ini menyajikan perjalanan visual bagi para penonton untuk melihat lebih dekat keterhubungan antar anggota keluarga di desa Genikan, serta upaya mereka untuk bertahan hidup dari lingkaran kemiskinan yang menjebak mereka.
Sutradara Shalahuddin Siregar mengaku gembira bisa mendapatkan penghargaan ini. Hal ini membuktikan apresiasi dunia internasional terhadap hasil karya sineas Indonesia.
Sutradara Shalahuddin juga menjelaskan bahwa proses awal proyek film yang bernaung di bawah rumah produski Studio Kecil ini dimulai pada tahun 2006 melalui riset yang dilakukannya bersama tim selama dua tahun.
"Proses produksi dan pembuatan film ini memakan waktu empat tahun dan melibatkan empat orang kru dengan dua asisten dan seorang tenaga perekam suara. Tahap penyelesaian film ini memakan waktu selama 18 bulan, hingga siap tayang pada tahun 2011," demikian Shalahuddin.
[ysa]
BERITA TERKAIT: