"Tapi, gaya hidup pejabat yang berlebihan juga harus ditelusuri yang benar-benar gituloh. Harus adil juga melihatnya. Apakah ini karena korupsi atau karena sebelum dia jadi pejabat, misalnya di DPR, dia pengusaha atau saudara-saudara dia punya perusahaan," kata Desmon kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini.
Karena itulah, mantan aktivis ini menyarankan Busyro lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Persoalan kekayaan ini sangat sensitif dan tentu akan mendapatkan reaksi bila didapat dari cara yang tidak melanggar UU.
"Kesan yang timbul, Busyro ini kayak bikin kanalisasi yang dia khawatir tidak terpilih lagi jadi Ketua KPK di kemudian hari. Seolah-olah dia cari nama agar populer. Nanti kalau dia tidak terpilih, DPR dianggap sentimen sama dia. Ya ini trik politik saja yang dilakukan Busyro. Saya ini biasa saja (menanggapinya)," ungkap Desmon.
Tapi Desmon tak menampik ada perspektif lain dari Busyro yang banyak omong belakangan ini. Busyro terlihat agak panik. Karena kuatir kalau tidak terpilih menjadi Ketua KPK lagi. Kalau tidak jadi Ketua KPK, otomatis ruang politiknya tidak seperti sekarang.
"Saat ini dia agak emosi. Biasanya dia sangat santun. Kalau dia agak
wise, kita kan akan menganggap dia sebagai negarawan, hormat kita. Tapi kalau kita sudah lihat dia agak emosional seperti ini, kita melihatnya sebagai seorang politisi. Jadi ada yang salah dalam persepsi kita hari ini. Saya khawatir malah dia melakukan kanaliasi seperti ini teman-teman di DPR tidak respek sama dia dan kemungkinan tidak memilih gitu loh," demikian politisi Gerindra ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: