Hal itu diungkap Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Saleh P. Daulay, yang baru kembali ke Tanah Air setelah melaksanakan ibadah haji, kepada
Rakyat Merdeka Online siang ini (Senin, 14/11).
"Salah satu, jauhnya maktab-maktab jamaah dari pusat ibadah di Tanah Suci. Maktab yang cukup jauh dari Masjidil Haram menyulitkan jamaah untuk bisa masuk. Karena keterbatasan daya tampung Masjidil Haram, banyak jamaah yang tidak bisa shalat di dalam," kata Saleh.
Terang Saleh, karena keterbatasan tempat, masjidil haram ditutup kalau sudah penuh. Jamaah haji Indonesia tidak bisa menjangkau ke dalam Masjid, karena butuh waktu 1-2 jam dari maktab untuk tiba ke lokasi. Akhirnya, jamaah melaksanakan shalat di pinggir, di luar masjid dan di kawasan terbuka lainnya.
Kedua, jauhnya maktab jamaah dari tempat pelontaran jumrah. Sebagian besar jamaah tinggal di maktab 70 yang butuh waktu 1 jam berjalan untuk sampai ke lokasi.
"Akhirnya, banyak sekali jamaah yang melontar jam 2 malam. Hal ini untuk menghindari panas matahari dan padatnya jamaah yang melontar. Sebenarnya waktu itu belum pas. Karena waktu paling
afdhal melontar itu adalah setelah zuhur," beber Saleh.
Karena itulah, Saleh mempertanyakan, apa indikasi yang digunakan oleh SDA, panggilan Ketua Umum PPP itu, sehingga menilai pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan sukses. Apalagi, sambungnya, hingga saat ini belum semua jamaah haji kembali ke Tanah Air. Artinya, belum layak untuk dilakukan penilaian.
[zul]
BERITA TERKAIT: