"Jadi karena (Taufan) memperoleh suara 20 persen, langsung dinyatakan menang. Ada pasalnya itu kalau tidak salah," terang Ketua DPD KNPI Kalimantan Barat, M. Adi Cahyono, kepada
Rakyat Merdeka Online pagi tadi (Senin, 31/10).
Dalam kongres tersebut terdapat 10 kandidat. Yaitu, Taufan Rotorasiko,
Sahrin Hamid, Doly Kurnia, Sultan Najamudin, Ariza Sabana, Shoim, SJ
Arifin,Arip Mustopa, Cupli Risman dan Nuzran Joher. Pada pemilihan
putaran pertama, Taufan mendapatkan 68 suara; Ariza 25 suara; Doly
Kurnia 23 suara; Sahrin Hamid 22 suara; serta kandidat lain hanya
memiliki suara rata-rata di bawah 10 suara dari 159 suara sah yang
diperebutkan.
Karena itu dia mempertanyakan argumen sebagian kalangan yang menyebut, bahwa harus digelar pemilihan lagi bagi kandidat yang tidak memperoleh suara 20 persen dan yang mencapainya baru kemudian ditarungkan kembali dengan Taufan pada putaran kedua. "Dimana pasalnya itu. Itu nggak ada. Kalau pun mau diulang, ya satu calon yang masuk itu. Kan yang lain tidak masuk," katanya.
Dia pun menegaskan, pada penutupan Kongres, Taufan ditetapkan sebagai ketua umum KNPI. Meski penetapan itu tidak dihadiri calon ketum KNPI yang lain karena tidak mau masuk ruangan sidang. Dan memang penetapan Taufan itu dilakukan setelah beberapa kali skorsing waktu.
Bagaimana tanggapan Anda atas ancaman akan ada KNPI tandingan?
"Yang jelas kita melaksanakan Kongres untuk menyatukan pemuda Indonesia. Kita sepakat bahwa Kongres ini menjaga persatuan pemuda Indonesia. Kalau ada yang berpihak seperti itu, itu berarti kita tahu mereka itulah yang mungkin selama ini memecah belah. Harus kita dihindari," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: