"Di AD/ART yang kita sepakati dalam kongres bahwa calon yang memenuhi 50 persen plus 1 suara, dia menang dalam satu putaran. Tapi persoalannya kan (Taufan) tidak mencapainya. Kemudian yang di bawahnya tidak memenuhi (suara 20 persen)," kata Wakil Ketua Umum Dewan Muda Lintas Agama Husin Abdullah kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu, (Minggu, 30/10).
Dalam kongres tersebut terdapat 10 kandidat. Yaitu, Taufan Rotorasiko, Sahrin Hamid, Doly Kurnia, Sultan Najamudin, Ariza Sabana, Shoim, SJ Arifin,Arip Mustopa, Cupli Risman dan Nuzran Joher. Pada pemilihan putaran pertama, Taufan mendapatkan 68 suara; Ariza 25 suara; Doly Kurnia 23 suara; Sahrin Hamid 22 suara; serta kandidat lain hanya memiliki suara rata-rata di bawah 10 suara dari 159 suara sah yang diperebutkan.
Menurut Husin, karena tidak mencapai suara 50 persen plus satu, Taufan baru mendapatkan tiket untuk bisa bertarung pada putaran kedua. Sementara kandidat lainnya, bertarung kembali. Siapapun di antara mereka yang mendapat suara 20 persen, baru akan menghadapi Taufan, yang sudah menunggu. Tapi sayang hal itu tidak dijalankan.
Karena itu, Husin mengimbau
steering comittee, organizing comittee, dan panitia pemilihan harus segera mencari jalan keluar. Menurutnya, yang harus dilakukan saat ini adalah kembali menggelar pemilihan untuk menentukan siapa yang akan maju pada putaran kedua berhadapan dengan Taufan. Panitia cukup memanggil para pemilik suara, yaitu utusan organisasi kepemudaan dan KNPI provinsi. Karena itu tidak perlu acara tersebut digelar secara besar-besaran.
Karena, katanya lagi, Taufan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi ketua umum KNPI. "Kemarin pun SC, pimpinan sidang tidak berani menetapkan Taufan. Karena belum memenuhi. Lagi pula siapa yang akan mengakui dia. Kemarin itu hanya bubar saja. Karena (peserta) sudah lelah, dan waktunya juga habis untuk hotel," tegasnya.
Husin juga melihat, kalau memang Taufan dipaksakan jadi ketua umum, hal itu sangat berbahaya. Karena, tujuan mulia kongres bersama kali ini untuk menyatukan dualisme kepemimpinan KNPI tidak tercapai. Bahkan saat ini sudah ada selentingan, agar dibuat organisasi sejenis KNPI.
"Cikal bakalnya sudah ada. Seperti Poknas, Perkumpulan Organisasi Tingkat Nasional. Ada 31 organisasi di bawahnya yang dibentuk sebelum kongres. Nah, setelah begini (keadaannya), jangan-jangan jadi kacau. Nanti ada lagi, ada lagi (organisasi baru). Padahal kita menginginkan ini adalah kongres rekonsiliasi. Kalau SC dan OC tidak mengambil jalan terbaik, maka ini akan kacau lagi," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: