Sebaliknya, sebagaimana dikatakan Ketua Umum partai tersebut, Aburizal Bakrie, Golkar akan menggunakan metode survei. Alasannya, konvensi dipilih pengurus partai sedangkan, Pilpres dipilih rakyat. Untuk mengetahui siapa calon yang diinginkan rakyat dari Golkar, tentu lewat survei.
Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah penghapusan sistem konvensi akan membuat tokoh-tokoh Golkar kecewa karena tertutup celah untuk maju pada Pilpres lewat Golkar?
Kepada
Rakyat Merdeka Online, Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar Akbar Tanjung, yang ditanya tentang hal tersebut pagi ini, mengaku tak tahu.
"Saya sih nggak tahu ya, tokoh-tokoh yang lain. Saya juga tidak mengatakan saya kecewa. Saya cuma mengatakan pada waktu itu, bahwa konvensi itu satu cara yang cukup bagus di dalam melakukan rekrutmen calon presiden dari partai Golkar," ungkap Akbar, mantan Ketua Umum Golkar ini.
Tapi sekali lagi, Akbar menegaskan, bahwa dirinya menerima kalau konvensi tidak diterapkan. "Tapi kalau seandainya organisasi memutuskan lain, kita juga harus mematuhi dan menghormati. Saya kira begitu," tandasnya.
Diketahui, saat ini ada beberapa tokoh Golkar yang disebut-sebut masih punya kans untuk maju pada Pilpres mendatang. Selain Akbar, juga ada nama Jusuf Kalla dan Sri Sultan HB X.
[zul]
BERITA TERKAIT: