Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief di Jakarta (Sabtu, 8/10).
Menurut Andi Arief, meskipun aktivitas gempa vulkanik Anak Krakatau menurun, namun kegempaan masih terjadi di luar kelaziman. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat jika sebelumnya jumlah kegempaan antara empat sampai lima kali per menit dengan jumlah sekitar 5 ribu kali perhari, maka sampai Jumat kemarin gempa vulkanik pada kisaran 3,5 sampai 4 ribu kali.
"Sementara untuk aktivitas gempa vulkanik Gunung Lokon di Sulawesi Utara masih tinggi hingga mencapai 44 kali," ujar Andi.
Dikatakannya, aktivitas ini menurut pemantauan lapangan menggambarkan suplai energi yang dikhawatirkan dapat menciptakan erupsi.
Sementara untuk Gunung Api Tambora, lanjut Andi, aktivitas kegempaan vulkaniknya masih berlangsung, meskipun telah hampir sebulan terjadi penurunan aktivitas.
Andi Arief juga menekankan perkembangan Gunung Api Marapi di Sumatera Barat. Dikatakan Andi, peningkatan aktivitas terjadi sejak 3 Agustus 2011 sekitar pukul 09.00 WIB.
"Hari Jumat kemarin, seperti kita ketahui, Marapi mengeluarkan suara letusan dan sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang berketinggian 1 ribu meter, dan menjangkau sejumlah daerah di Sumbar, seperti Agam, Tanahdatar, Padangpariaman, dan Padangpanjang," ungkapnya.
Secara keseluruhan, dari aktivitas Gunung Api yang diamati, kegempaannya mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu, dengan pola letusan yang semakin sukar diprediksi.
Khusus untuk Gunung Merapi, kondisi faktor topografi dengan dataran tinggi yang lebih mudah menangkap uap air, dalam pantauan BMKG, musim hujan akan datang lebih awal.
"Tentu saja, ancaman banjir lahar dingin harus diantisipasi untuk wilayah Sleman, Yogyakarta dan Magelang, Boyolali, serta Klaten, Jawa Tengah, terutama masyarakat yang tinggal disepanjang delapan sungai yang berhulu di Merapi," jelasnya.
Direncanakan, besok (Minggu, 9/10) bertempat di eks Gedung Sekneg, kantor Andi Arif akan mengumpulkan ahli vulkanologi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka guna mendengar pandangan dan pendapat, serta masukan terkait perkembangan kegunungapian di Indonesia.
"Kelihatan mendadak, namun harus segera mendapat second opinion, yang akan kami sampaikan kepada lembaga-lembaga terkait, agar kebijakan lebih tepat dan akurat," tutup Andi.
[dem]
BERITA TERKAIT: