KASUS KORUPSI PLTS

Tak Pantas Dielukan, Meski Anas Lebih Baik Dibanding Mega

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Jumat, 23 September 2011, 08:34 WIB
Tak Pantas Dielukan, Meski Anas Lebih Baik Dibanding Mega
Megawati Soekarnoputri/ist
RMOL. Kesedian Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum untuk diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus korupsi  proyek pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan tanpa ditemanin pengacara tak semestinya ditanggapi berlebihan. Makanya, apresiasi yang diberikan sejumlah kalangan kepada Anas dinilai berlebihan.

"Berlebihan sih. Menurut saya kita harus proporsional dulu. Kita lihat dulu bukti-buktinya. Kehadiran dia sebagai warga negara itukan kewajiban," kata Jurubicara Komite Pengawas KPK untuk Kasus Nazaruddin Boni Hargens kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Cuman memang, Boni mengakui, bahwa dibanding Megawati Soekarnoputri, seperti yang disindir sejumlah politisi Demokrat, kesediaan Anas lebih baik dari Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut. Karena Mega yang rencananya akan diperiksa sebagai saksi dalam saksi kasus travel cek yang banyak melibatkan anak buahnya akhirnya tidak jadi.

"Cuman tidak proporsional kalau (Anas) dielu-elukan, terlalu berlebihan," demikian pengajar Universitas Indonesia ini.

Atas kesediaan Anas kemarin itu dan mengaku tidak tahu-menahu kasus tersebut, menurut Boni, hal itu menjadi tantangan terbesar buat Nazaruddin untuk memberikan bukti omongannya. Karena Anas diperiksa berdasarkan omongan mantan anggota DPR tersebut.

"Pertanyaan besarnya adalah apakah Anas benar-benar bersih dengan keberanian dia hadir atau apakah Nazar benar-benar berbohong. Kita kembalikan semua pada bukti. Kalau nanya Nazar punya bukti, maka asumsi-asumsi tadi  itu patah. Jadi lebih pada sebuah uji kasus yang menarik," tandasnya.

Sebelumya diketahui, rencana pemanggilan Megawati oleh KPK pada Februari lalu mendapat penolakan keras dari kader-kader PDI Perjuangan. Bahkan, tak sedikit kader Mega yang melakukan cap jempol darah sebagai tanda penolakan. Akhirnya, permintaan PDIP agar Mega tidak diperiksa dikabulkan KPK.

Meski, saat itu, Gayus Lumbuun dari PDI Perjuangan menegaskan Mega tidak jadi diperiksa bukan karena adanya tekanan dari partainya.

"Saya pikir tidak. KPK menyadari beberapa harapan yang kami kemukakan. KPK paham betul dia sudah memfasilitasi pemohon untuk meminta saksi yang meringankan. Ternyata KPK melihat konteks orang yang diminta. Apa semata-mata ingin Ibu Mega hadir. Menurut saya, saksi bukan kehadiran yang diutamakan. Saksi adalah substansi dari kesaksian itu. Itu yang disampaikan Ibu Mega secara tertulis," jelas Gayus saat itu. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA