"Saat itu saya sedang makan di Gultik (gulai tikungan) Blok M. Tak lama saya dan reporter saya bernama Heri mendengar ada yang ngomong bentar lagi tawuran. Benar saja terjadi. Saya diminta reporter ambil aja buat anak news. Saya ini anak produksi Seleb. Karena diminta ambil gambar saya ambil gambar tawuran," kata Okta menceritakan kronologinya.
Sampai paska tawuran, lanjut cerita Okta, dirinya mengambil gambar siswa yang tadi ribut di taman depan SMA 6. "saya ikuti terus sambil ambil gambar lambang SMA 6. Saya pikir gambar masih kurang, saya ambil gambar yang sedang kumpul-kumpul di taman, semenit masih aman. Begitu mereka lihat saya, 25 lebih siswa mengeroyok saya," tutur Okta.
Okta sempat mendengar celetukan para siswa. "Norak banget, ini sudah biasa (tawuran)," tirunya.
Tidak hanya mengeroyok, para siswa juga mengambil kaset Okta yang ada dikamera. "Mana kaset lo," celetuk seorang siswa. Okta pun menyerahkan kasetnya. "Saya serahkan untuk jaga diri. Tapi setelah itu saya ditarik mereka dan nendang kepala dan memukul punggung dan kamera saya. Saya saat itu hanya nunduk sambil selamatkan kepala saya jadi saya tidak lihat siapa yang mukul," ceritanya.
Usai pemukulan terjadi, ada niat baik dari pihak Okta dan kru Trans 7 yang meliput di tempat. Salah satunya meminta pertanggung jawaban dari pihak sekolah. Inisiatif dilakukan ke sana karena warga sekitar membenarkan jika siswa yang sering nongkrong di taman itu anak SMA 6.
"Saya meminta pertanggung jawaban pihak sekolah. Dan bertemu satpam bernama Cecep. Cecep sempat menghubungi bagian Kesiswaan Rusni. Sekitar jam 08.00 saya dihubungi Bu Rusni lewat HP milik Cecep," tutur Okta. Rusni sempat bertanya ke Okta. "Mas yakin itu anak SMA 6." "Iya, tidak mungkin anak SMA 70," timpal Okta.
Tetap saja Rusni mengelak. "Bisa saja itu bukan anak SMA 6. Bisa juga itu alumni," sanggahnya.
Okta kembali meyakinkan. Diyakinkan Okta, Rusni kembali mengundur permasalahan. "Itu bukan tanggung jawab sekolah lagi karena sudah di luar jam sekolah. Ini tanggungjawab masyarakat dan orang tua," Rusni mengelak lagi.
Rekan wartawan Okta dari salah satu media online, Ardi, mencoba membantunya. Dia bebicara dengan Rusni, meyakinkan dan coba mempertanyakan tanggungjawab pihak sekolah. "Itu bukan tanggungjawab sekolah lagi," jawab Rusni.
Untuk diketahui, sekitar jam 19.00 malam tadi, terjadi tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 di Bundaran Mahakam, Bulungan, Jakarta. Tidak banyak yang meliput, tapi peliput dari Trans 7 mengambil gambar setelah tawuran selesai sampai terjadi pengeroyokan. Dalam tawuran tersebut terihat para siswa lawan SMA 70 menggunakan senjata gear yang diikat dengan tali.
Aparat kepolisian berada di sana paska tawuran dan pengeroyokan reporter Trans 7. Polisi sendiri menyerahkan masalah ini kepada pihak Trans 7 dan pihak SMA 6.
[ade]
BERITA TERKAIT: