Tapi, dalam pelaksanaan shalat kali ini, sebagian umat Islam terpaksa harus shalat di dekat pagar rumah penduduk, di sela-sela mobil yang sedang parkir. Karena jumlah jamaah yang membludak, sementara lahan kurang memadai.
Shalat yang digelar pukul 07.00 WIB ini diimami Amir Said Matondang dan Najamuddin Ramli bertindak sebagai khatib.
Dalam khutbahnya, Najamuddin mengingatkan bahwa tujuan pelaksanaan puasa Ramadhan adalah untuk membentuk umat Islam menjadi orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa itu, terangnya, dalam kesehariannya, secara sadar mampu menghindari kebodohan, aniaya, dan kehancuran diri. Orang yang bertakwa adalah orang yang penuh dengan kehati-hatian.
"Orang yang bertakwa, seperti musafir yang harus berhati-hati agar sampai di tujuan," unkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah ini juga menyoroti soal penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, tapi nilai-nilai keislamannya absen dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, hal ini juga berlaku untuk para elit dan pemimpin negeri ini. Karena nilai-nilai keislaman itu absen, masih katanya, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme masih saja dilakukan.
"Inilah sebuah gambaran bahwa Islam, hanya simbolik. Simbolisasi sangat marak tapi sangat sedikit intisari Islam itu terpraktikkan," ungkapnya.
Di akhir khutbahnya, Najamuddin juga mengajak umat Islam untuk tetap menjaga kekompakan dan persaudaraan sesama umat Islam. Dia mengatakan, perbedaan dalam menentukan 1 Syawal 1432 hijriah hanya persoalan perbedaan hitungan semata.
Sampai turun dari mimbar sekitar pukul 07.50 WIB, tidak ada jamaah yang beringsut dari tempat shalat. Semuanya khusyuk mendengarkan isi khutbah.
[ald]
BERITA TERKAIT: