"Berpijak dari hasil pantauan Tim Ru'yah Lajnah Falakiyah PBNU tersebut maka kami kabarkan kepada warga NU dan muslim pada umumnya agar menyempurnakan puasa Ramadhan selama 30 hari (istikmal) dan salat Idul Fitri pada hari Rabu lusa," kata Sulthan Fatoni, Ketua Kominfo dan Publikasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, petang ini.
Sulthan menambahkan, istikmal dipilih karena ketidakmampuan melihat bulan pada petang dan didasarkan pada pendapat
mazahibul arba'ah atau keempat mazhab. Informasi waktu shalat Idul Fitri ini penting bagi PBNU sebagai bagian dari tugas ulama membimbing umat Islam agar berpuasa Ramadhan dengan jumlah yang benar dan salat Idul Fitri benar-benar pada awal bulan Syawal.
"Substansinya NU mengabarkan dengan mengacu pada
ru'yatul hilal bil fi'li, bukan hisab," Kata Sulthan.
Ketika ditanya pendapat NU tentang sekelompok umat Islam yang dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal yang tidak berdasarkan
ru'yatul hilal bil fi'li, Sulthan menegaskan bahwa Muktamar NU ke-20 di Surabaya pada 1954 telah menjelaskan bahwa Rasulullah dan Khulafaurrasyidun tidak mengenal metode selain
ru'yatul hilal bil fi'li.
“Para ulama saat Muktamar NU 1954 telah memutuskan untuk mengacu kepada hasil
ru'yatul hilal bil fi'li. Karena itu tugas NU mengabarkan kepada umat Islam untuk berpuasa Ramadhan dan mengakhirinya dengan salat Idul fitri mengacu kepada
ru'yatul hilal bil fi'li," tambah Sulthan Fatoni.
[zul]
BERITA TERKAIT: