Bagi peneliti senior LIPI, Siti Zuchro, sikap Nahdliyin tersebut menjadi indikasi telah terjadi ketidakpercayaan Nahdliyin terhadap dua pemimpin mereka sekaligus, SBY selaku Presiden, dan Said Aqil Siradj selaku Ketua PBNU. Di tengah kultur tradisional NU, sikap tidak manut Nahdliyin tersebut terasa sangat aneh.
"NU itu disatukan dengan kultur tradisional. Kalau ada pembicara yang disegani, diulamakan, ada keterkaitan tersendiri, panas sekalipun akan ditongkrongi juga. Mereka sangat loyal. Apa yang terjadi tadi siang semakin membuktikan ada ketidakpercayaan kepada para pemimpinnya," ujar peneliti senior LIPI kepada
Rakyat Merdeka Online, Minggu malam (17/7).
Disela-sela Harlah, Said Aqil menegaskan sikapnya mendukung pemerintahan SBY. Said memuji beberapa prestasi kepemiminan SBY, salah satunya berhasil menyelamatkan negara ini dari ancaman krisis ekonomi.
Ditambahkan Siti Zuchro, sikap Nahdliyin bisa jadi bukti kalau kepemimpinan Said Aqil Siradj di NU tak cukup kuat. Penyebabnya karena Said tidak mencerminkan sikap Nahdliyin.
"Diantara pemimpin dengan yang dipimpin tidak ketemu. Kepemimpinan Pak Said tidak mencerminkan yang dipimpin. Kalau mereka (Said dan SBY) masih disegani, dikagumi, maka tidak mungkin meninggalkan begitu saja," imbuhnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: