Tapi, gurubesar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iberamsyah, melihat sebaliknya. Dia tidak yakin bahwa pengakuan SBY tersebut untuk mendapatkan simpati dari masyarakat, setelah masyarakat juga sudah lama menilai banyak menteri yang tidak layak dipertahankan. SBY tidak perlu mengharapkan simpati, karena rakyat sudah cerdas tahu bagaimana Partai Demokrat dan kualitas kepemimpinan SBY.
"Nggak ada hubungannya saya rasa. Karena tanpa dirusak Partai Demokrat memang sudah rusak duluan," kata Iberamsyah kepada
Rakyat Merdeka Online, (Jumat, 8/7).
"Rakyat sudah tahu bahwa beliau ini tidak akan pernah tegas. Nggak perlu dia minta dukungan rakyat lagi. Karena rakyat sudah tahu dia tidak akan bissa tegas SBY. Itu sudah karakter dia, bukan lagi gaya dia nggak berani," tambahnya.
Iberamsyah sendiri mewanti-wanti kalau sampai SBY tidak membuat gebrakan dengan mencopot para menteri yang tidak layak tersebut setelah diakui bekerja tidak maksimal.
"Dia ngomong kurang dari 50 persen nih (instruksi tidak dijalankan). Tapi tiba-tiba dia nggak ngapa-ngapain. Kalau dia berani, begitu dia tidak puas dengan menterinya, langsung dia eksekusi ganti. Buat apa pakai curhat-curhat segala. Dia tidak perlu minta persetujuan dari masyarakat. Karena itu adalah hak prerogatif dia," tegasnya.
Apa komentar Anda seandainya memang SBY tidak mencopot menteri tersebut padahal sudah diakui tidak bisa bekerja? "Ya, aku tetap seperti yang dulu. Seperti lagu dangdut itu. Ini aku nih nggak berubah-ubah, tetap saja nggak berani, ragu-ragu," katanya.
[zul]
BERITA TERKAIT: