"Sebenarnya kalau partainya tidak ada masalah, tidak akan merepotkan. Karena dia kan hanya sebagai Ketua Dewan Pembina. Tetapi inilah problemnya partainya banyak masalah, Ketua Dewan Pembina ikut juga melibatkan diri," ujar pengamat politik dari The Indonesian Institute Abdurrahim Ghazali kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 27/6).
Rohim mengatakan itu saat dimintai pendapat atas penilaian sementara kalangan bahwa SBY sebaiknya meninggalkan jabatan di Demokrat agar konsen menjalankan roda pemerintahan. Menurutnya, SBY tidak bisa melepaskan diri dari Partai Demokrat karena keduanya memang sudah hampir menyatu jadi tidak bisa dipisahkan.
"Dulu waktu 2004 SBY itu kan tidak mengajukan diri sebagai calon presiden kalau tidak ada Partai Demokrat. Partai Demokrat sudah identik dengan SBY. Tapi seharusnya dengan kepengrusan yang lengkap dan proses manajemen modern yang bagus, seharusnya seorang ketua dewan pembina tidak terlalu mengurus hal-hal yang teknis," tambahnya.
Tapi karena Partai Demokrat belum berjalan sebagaimana mestinya, akhirnya SBY turun tangan. SBY tidak hanya mengurus hal-hal teknis, tapi juga masalah sepele. "(SBY) bukan hanya masalah teknis. Masalah sepele pun diurusi. Itu contohnya dia mengurus SMS (fitnah yang mencatut nama Nazaruddin) itu," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: